Perkara Cita-Cita

Sebuah bebek plastik mengeluarkan suara kwek yang serak dan parau seperti sedang sekarat, ketika terinjak telapak kaki Halimah. Ia pungut lalu simpan di saku celana. Buat teman mandi.

Halimah lanjut berjalan menyusul Hasan, saudara kecilnya.

Setelah sandal jepit mereka beriringan, Halimah bertanya, “Cita-cita kau apa, San?”

Hasan tentu saja tak langsung menjawab. Ia suka sekali berpikir masak-masak sebelum mengatakan apa pun. Apalagi perkara cita-cita yang baginya teramat penting. Boleh dibilang, ciri yang bikin manusia jadi manusia dan bukan kambing. Jika kambing bisa menyusun cita-cita, mungkin sekarang mereka sudah sampai juga di bulan. Bendera bergambar tanduk bikinan mereka akan terpancang di sebelah bendera Amerika Serikat atau boleh jadi justru di sisi lain satelit Bumi. Continue reading “Perkara Cita-Cita”

Advertisements

Pembajakan Identitas LGBTI dalam Usaha Memproduksi Komedi

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan video berjudul I’m Gay Prank on My Bestfriend di YouTube. Video tersebut memperlihatkan seseorang yang mengusili temannya dengan cara mengaku sebagai gay. Korban prank menunjukkan rasa jijiknya terhadap homoseksual dengan jelas ketika si pengusil berkata bahwa dia menyukainya. Selain verbal, korban bahkan melakukan kekerasan secara fisik. Yang mengejutkan (dan mengerikan), dari total tiga ribuan komentar yang telah ditinggalkan untuk video itu, ternyata kebanyakan penonton merayakannya sebagai humor.   Continue reading “Pembajakan Identitas LGBTI dalam Usaha Memproduksi Komedi”

Lelaki Yang di Dahinya Tertulis Kata-Kata

Meski lelaki itu tak  menghendaki, lagi-lagi sebuah tanggal lahir dan segera menelan tubuh lelaki itu begitu subuh pecah di timur.

“Tak adakah cara untuk membebaskan diri dari gelap-kelok-panjang usus waktu?”

Setiap pagi, selimut menjadi teman paling tak berperasaan. Seperti pelacur yang buru-buru menyuruh pelanggan pergi setelah segala yang dijual lunas dibayar. Seolah apa yang terjadi semalam tidak berarti apa-apa.

Continue reading “Lelaki Yang di Dahinya Tertulis Kata-Kata”

Bekas Luka Shanice

You are beautiful,” bisik seseorang. Bisikannya tidak merupakan buah dari keraguan, melainkan upaya  membangun keintiman.

You’re lying,” balas seseorang yang tergeletak di lantai ruang olah raga. Kulitnya hitam dan rambut keritingnya mengembang ke segala arah, seperti kembang gula yang jelek warnanya.

“Cewek-cewek kadang memang jahat. Terutama ke sesama cewek,” komentar seseorang yang kini duduk bersila di samping seseorang yang tergeletak di lantai ruang olah raga.

“Salah. Cewek-cewek itu jahat ke cewek yang mereka anggap lebih jelek,” sanggah seseorang yang terletak di lantai ruang olah raga. Badannya yang gemuk tengkurap tak bergerak. Sebelah pipinya melengketi permukaan lantai. Pandangan matanya menerawang ke arah pintu keluar. Tapi ia tak bisa melihat apa-apa. Otaknya terlalu sibuk menerjemahkan apa yang ia rasakan tanpa sempat mengolah informasi soal apa yang ia saksikan. Nama cewek itu: Shanice. Continue reading “Bekas Luka Shanice”

Teror Hujan

Kemalangan turun serupa hujan. Kuyupkan kami dengan darah dan kesedihan. Membanjir, hanyutkan jengkal-jengkal sejarah setiap rumah. Menjadikan mata kami satu-satunya kuburan bagi setiap kematian.

Hujan-hujan terus turun dan pohon-pohon sibuk melipat dedaunan. Sedangkan jerit-jerit kami tak pernah kembali. Apakah doa dari belulang daun yang kedinginan akan pernah sampai pada hangat pelukan Tuhan?

 

Ciwidey, 2017

Ulang Tahun Pertama

Di parkiran SD Bumi Mulia, di bawah pohon angsana, sebuah mobil warna merah mengilap terparkir sejak sepuluh menit yang lalu. Di jok pengemudi Lisa sibuk berkutat dengan telepon genggam. Jempol tangan kanannya yang berkutek merah muda berjinjit-jinjit di atas layar. Menekan simbol itu dan ini, menyusun sebuah caption Instagram untuk foto yang akan ia unggah.

“Nunggu si cantik pulang sekolah,” tulisnya.

Tak lebih dari lima menit setelah tuntas diunggah, foto terakhir Lisa itu telah disemati puluhan ikon hati dari pengikut-pengikut setianya.

Lisa tengah mengatup-ngatupkan bibir sambil bercermin di spion dalam untuk meratakan lisptik warna peach yang ia ulaskan sebelumnya ketika serombongan anak berseragam keluar dari gerbang depan Bumi Mulia. Ia lantas mengambil sekotak “Princess Cake” dari jok belakang yang sudah ia siapkan untuk Rose, putrinya yang hari ini akan merayakan ulang tahunnya yang ke delapan.

Kelopak-kelopak angsana rontok lalu jatuh di kaca depan mobil Lisa.

Gerbang Bumi Mulia sudah sepi. Tetapi Rose masih belum kelihatan. Lisa mencoba menghubungi Rose melalui gawai. Namun, tidak ada jawaban. Continue reading “Ulang Tahun Pertama”

8. Sarkas

“Lo mau bilang sama ibu lo kalo lo hamil? Emang cewek gila lo, Sus!” lolong Laki-Laki 3 yang diterima Susi dari pelantang di dasar telepon genggamnya.

“Iya, emang kenapa? Masalah buat lo? Kok lo malah nyolot, dasar sewot lo!” tantang Susi yang sedang berjalan menuju tempat kerjanya. Tak jauh dari tempat ia mengontrak kamar.

“Buat gue sih gak masalah, yang hamil kan elo, elo yang bakal kena semprot emak lo yang mulutnya pedes kayak sambel baru diulek!”

“Mulut lo tuh yang panas kayak koyo cabe.”

Mereka kemudian sama-sama tertawa. Susi dan Laki-Laki 3. Sepasang sahabat.

“Beneran deh, Sus. Gue gak ngerti. Strategi lo tuh konyol. Sama aja kayak bunuh diri. Lo gak bisa pikirin cara lain yang lebih pinter ya dengan otak burung kenari lo itu?”

“Ini udah gue pikirin mateng-mateng kok, Say. Lo gak usah khawatir. I know what i am doing, darling. Don’t be upset, don’t get too worry.

I know you’re tough, honey. Tapi ini terlalu berisiko. I don’t want you to get hurt. Lo yakin gak mau diskusiin ini lebih lanjut dulu sama gue? Setidaknya, sebelum lo pergi ngadep emak lo yang lebih serem dari singa itu, lo mesti punya rencana cadangan. Kalo di rumah lo malah diusir atau disiksa sama emak lo, lo siap? Yakin lo gak bakal ambruk?” nada bicara Laki-Laki 3 kini melunak dihangati rasa khawatir yang tulus.

I’ll be fine. Seorang Ibu tetaplah Ibu, gak peduli semirip apa dia sama singa betina. Emak gue tetep emak-emak. Dan saran siapa lagi yang lebih dibutuhkan gue sebagai seorang calon emak kalo bukan dari emak-emak senior?” Susi berusaha menggunakan keahliannya sebagai SPG untuk meyakinkan sahabatnya.

“Lo emang kepala batu, Sus. Sama kayak emak lo. Semoga hati emak lo sebaik hati lo ya, Sus.”

“Emak gue emang galak di mulut, tapi gue percaya kok, dalemnya lembut.”

7. Monolog

Rasanya tidak ada guna menghabiskan waktu mencari siapa yang bisa disalahkan atas kejadian ini. Yang harus bertanggung jawab bukan aku atau laki-laki itu, melainkan kami berdua. Toh faktanya bayi tak bisa tumbuh hanya dari ovum atau hanya dari sperma.

Meski memang, yang paling terkena dampak adalah aku sebagai si empunya rahim. Perutku akan menggembung seiring perkembangan si jabang bayi. Mungkin itu yang bikin laki-laki lebih mudah kabur sedangkan perempuan tidak. Tak ada cara bagi seorang pun untuk bisa kabur dari sesuatu yang ia bawa ke mana-mana, dalam dirinya.

Percuma juga menyalahkan perusahaan kondom, toh mereka memang tak pernah menjamin seratus persen produknya antibocor.

Ketika dua harus merah itu pertama kali tertangkap mataku, layu tubuhku. Kaget, tidak menyangka, bingung selanjutnya harus melakukan apa. Ada sensasi aneh yang menghinggapi tubuhku malam itu. Sesuatu yang membuatku merinding hebat hingga tak bisa tidur.

Kata “Ibu” seolah bergema dalam tubuhku. Menyadari bahwa ada sesuatu yang tumbuh jauh di balik kulit perut membuatku takjub sekaligus takut. Kini, aku bukan sekadar perempuan atau manusia  biasa. Kini, aku adalah seorang ibu. Rahimku menjadi tempat terbentuknya sebuah kehidupan baru.

Tetapi, ketakjuban itu kemudian luntur oleh rasa getir yang menghantamku. Betapa masyarakat begitu pandai memenjara keindahan dengan berbagai aturan. Karena aku dan laki-laki itu tidak terikat perkawinan, kehamilanku akan dianggap sebagai aib, bukan keajaiban alam. Janin yang tumbuh di rahimku akan disebut sebagai anak haram, bukan sebagai nyala kehidupan yang sudah sewajarnya dirayakan. Perempuan-perempuan sepertiku diajari untuk menunduk malu dan mengutuk diri sendiri.

Mungkin ada baiknya jika aku memberitahu ibu tentang kehamilanku. Sejujurnya, aku ingin meminta saran darinya. Aku tahu, ada kemungkinan ia marah besar atau bahkan mengusirku. Tetapi bagaimanapun juga, ibuku adalah seorang “Ibu”. Nyala kehidupan pernah menumpang tumbuh di dalam rahimnya. Ia tentu tahu betapa indah perasaan itu. Aku tak takut diusir, aku hanya takut nyala itu mati.

 

6. Pertanyaan

1.       Siapakah yang harus bertanggung jawab atas kehamilan Susi?

A.      Susi

B.      Laki-Laki 1

C.      Susi dan Laki-Laki 1

D.      Perusahaan kondom

2.       Apakah Susi harus memaksa Laki-Laki 1 menikahinya?

A.      Tentu

B.      Jangan

C.      Terserah

D.      Percuma

3.       Apakah Susi siap menikah?

A.      Ya

B.      Tidak

C.      Tidak sekarang

D.      Tidak tahu

4.       Apakah Susi ingin menikah dengan Laki-Laki 1?

A.      Ya

B.      Tidak

C.      Tidak sekarang

D.      Ragu-ragu

5.       Apa pendapat Susi  mengenai aborsi?

A.      Menolak dengan tegas

B.      Sah-sah saja

C.      Pilihan pribadi masing-masing orang

D.      Sama dengan membunuh

6.       Apakah Susi memiliki cukup uang untuk melakukan aborsi?

A.      Ya

B.      Tidak

C.      Ya, tapi tidak sekarang

D.      Bisa cari pinjaman

7.       Apakah Susi memiliki cukup pengetahuan untuk melakukan aborsi tanpa menyakiti dirinya sendiri?

A.      Ya

B.      Tidak

C.      Belum

D.      Tidak masalah

8.       Apakah Susi memiliki keberanian yang cukup untuk melakukan aborsi tanpa menyalahkan dirinya sendiri?

A.      Ya

B.      Tidak

C.      Tidak tahu

D.      Tidak mau tahu

9.       Apakah Susi perlu berterus terang pada Laki-Laki 2 bahwa ia sedang hamil dan mencari suami untuk menyelamatkan muka?

A.      Ya

B.      Jangan

C.      Coba saja

D.      Nanti juga tahu sendiri

10.   Apakah Susi perlu terusterang pada ibunya?

A.      Ya

B.      Jangan

C.      Coba saja

D.      Nanti juga tahu sendiri

11.   Jika ibu Susi sampai tahu mengenai kehamilan Susi, apa yang akan dilakukannya?

A.      Membantu Susi

B.      Mengusir Susi

C.      Memarahi Susi

D.      Menyalahkan dirinya sendiri

12.   Apakah Susi ingin memiliki anak?

A.      Ya

B.      Tidak

C.      Tidak sekarang

D.      Belum ingin

13.   Bagaimana perasaan Susi ketika tahu ia sedang mengandung?

A.      Senang

B.      Bingung

C.      Sedih

D.      Takut

14.   Hal apakah yang sebenarnya mengganggu pikiran Susi?

A.      Kehamilan di luar nikah

B.      Tanggapan keluarga jika tahu

C.      Tanggapan masyarakat jika tahu

D.      Balasan dari Tuhan karena telah berdosa

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑