Mengemas Bias

Sekantung pelangi pecah lagi di kepalamu

Cerah warna-warnanya memulas bola mata

Lengkungan kauputar-pasang jadi senyuman

Sebentar, lalu semua pudar

Menuju rumah, kaubekal segenap bias yang bisa dibakul

Di stasiun, kau duduk sambil bertanya-tanya, adakah warna yang lupa kaubawa?

Gambir, 08 April 2018

wp-image-1986107740

Advertisements

Dua Puluh Tujuh dibagi Empat

1.

Aku membayangkan lengan-lenganmu yang hampir sama panjang dengan lengan kakak perempuanmu. Lengan itu kaulambai-lambaikan ke sebuah jembatan tempat ibumu biasa lewat setiap ia pulang bekerja. Ibumu adalah penyelamatmu. Kau akan memeluknya erat-erat begitu ia membuka pintu dan membebaskanmu dari jebakan kasih sayang seorang nenek yang membuatmu merasa seperti ikan dalam ember berjendela. Nenekmu yang baik akan membuat mukamu yang hanya sedikit lebih terang dari tanah di halaman selalu cemberut di balik bingkai jendela, karena kau tak boleh ke mana-mana. Seharian. Padahal kakimu sudah begitu bosan menginjak dipan kayu. Mereka mendamba-damba basah rumput dalam selimut embun, juga panas batu kali yang seharian dijemur matahari. Meski takut pada anak ayam, induk ayam dan bapak ayam, kau sebenarnya begitu ingin menjelajah. Maka setiap ibumu akhirnya pulang dari tempat yang membuat bajunya berbau dan berdebu, kau akan memeluknya erat-erat.

2.

Kau menangis tengah malam. Ingus keluar dari kedua lubang hidungmu yang di kemudian hari sering mengeluarkan darah setiap kali kau terlalu lelah. Seorang teman baru datang untuk menemanimu bermain nintendo yang dibeli ayahmu sebagai usaha membuatmu betah di rumah baru. Kau belum tahu nama teman barumu itu. Kau hanya ingat bahwa ia berambut rancung, berbadan kurus dan baunya seperti nasi kemarin yang sudah agak mengering. Ia selalu mengenakan baju hangat. Kau dan dia tertawa, begitu juga ayah dan ibumu yang sedang sibuk membereskan baju ke dalam lemari, ketika ingus encer dari hidungmu membentuk gelembung yang sama sekali tidak lucu. Suatu saat, sebuah kejadian tak jauh dari situ akan membuat bulatan di matamu mengingatkan orang-orang pada secangkir kopi yang tak sengaja ketumpahan susu. Setelah itu, sebuah kacamata berantai akan menjadi aksesori wajibmu setelah selama sebulan mata kirimu ditutup perban. Di sekolah, kau pernah menampar seseorang karena menyebutmu buta.

3.

Muka penggorengan.

Perut gentong.

Rambut landak.

Suara bebek.

Otot tahu.

Pungggung berbatu.

Otak mentega.

Hidung raksasa.

Tangan kura-kura.

Ada masa ketika kau tiap hari pergi ke bangunan bercat abu-abu, memakai pakaian putih-abu yang sama sekali tak cocok dengan ukuranmu, membawa tas berisi setumpuk buku, dan setiap kali pulang ke rumah kau punya lebih banyak cara untuk tidak menyukai dirimu sendiri.

4.

Kau tinggal dalam sebuah lemari, tanganmu berkeringat di himpitan pantat, gemetar menyembunyikan sesuatu. Sudah lama kaucopot matamu yang seperti kopi ketumpahan susu itu. Pokoknya kau sudah tahu bahwa dunia dipenuhi serigala-serigala yang mudah marah dan hobi menonton sirkus. Sebagai ganti, kau gunakan sepasang mata mainan yang kaucungkil dari serigala yang tertidur di kamar ibumu. Dengan mata itu, kau bisa melihat dunia sebagaimana serigala-serigala lain melihatnya (dan yang lebih penting lagi, serigala-serigala itu bisa melihatmu sebagai bagian dari dunia yang mereka huni, dunia yang mereka setujui). Sudah pula kau tanggalkan paru-parumu. Di dalam lemari itu, kau tidak bertahan hidup dengan paru-paru, melainkan dengan pura-pura. Kauajari mukamu cara memalsukan senyum sebagaimana para pawang mengajari lumba-lumba sirkus untuk terkikik-kikik meski sebenarnya tersiksa. Kau selalu berusaha keras untuk tetap tersenyum dan terus hidup dalam lemari agar serigala-serigala yang menonton tak marah lalu memakanmu. Kau tak lagi ketakutan dan tak lagi merayakan cinta.

kau

***

#Tantangan1 (deskripsi)

#KelasFiksi

#OneDayOnePost

7 Things (i like) About: TWINWAR

Sebetulnya, aku udah lama banget nggak baca-baca lagi novel bergenre teenlit. Novel teenlit yang terakhir kubaca adalah Looking For Alibrandi karya Melina Marchetta terbitan Gramedia Pustaka Utama. Tergerak untuk baca karena novel itu strongly recommended oleh Mbah Hetih Rusli, editor kece idolaku, dan disebut-sebut sebagai salah satu novel teenlit terbaik.

Meski novel itu udah lama banget berhenti cetak di Indonesia (mungkin karena penjualannya di pasar gak terlalu baik), untungnya pas aku cek di salah satu marketplace ternyata masih ada yang jual. Aku dapat terbitan pertama tahun 2004 dengan kondisi yang masih bagus dengan harga cuma belasan ribu rupiah aja. Setelah dibaca emang terbukti rekomendasi dari Mbak Hetih tak pernah salah. Ceritanya bagus banget, tetap ringan a la teenlit tapi muatannya enggak kurang berbobot. Si penulis mengangkat berbagai isu sensitif di antaranya rasisme dan depresi di kalangan remaja. Gak heran kalau karya ini dapat banyak penghargaan.

Novel teenlit lain yang akhirnya membuatku kembali tergerak untuk membacanya adalah Twinwar karya M. Dwipatra. Kenapa tertarik? Karena novel inilah yang berhasil jadi juara di ajang Gramedia Writing Project batch 3. Tentu saja diriku penasaran dengan isinya. Kalau udah jadi juara, ya masa sih, gak bagus. Iya, kan? Setidaknya udah ada jaminan mutu. Jadi aku gak perlu takut bakal buang-buang waktu (mengingat masih ada banyak buku yang antre di daftar bacaanku jadi suka sayang aja gitu kalau udah sengaja meluangkan waktu tapi ternyata buku yang dibaca isinya mengecewakan, kan kalau tahu begitu mending ay baca buku lain dulu).

So, without any further ado, here are the 7 things (i like) about: Twinwar! Continue reading “7 Things (i like) About: TWINWAR”

Malam Berhantu 

Gonggong masa lalu merongrong
Kantuk dosa di tiap gigil janari
Cakar sesal tidak pernah gagal
Mengoyak selimut pertaubatanmu

Ringkih doamu gugur tanpa mampu
Menghalau teror dendam kata-kata
Yang membubung dari segunduk
Ruang kubur di lelangit mulutmu

Menggemai celah-celah rusukmu:
Ratap arwah jabang-jabang puisi
Mencari hangat puting-puting susu
Yang tak pernah berani kaumiliki

Alamendah, 18 Februari 2018

Oliver, Oliver, Oliver

Galau kemarau pernah menggiringku menuju lembah-lembah hijau berdanau, tetapi bengkung rusukmulah gerbang rumahku. Tempat peluk-peluk tetap bersarang dan gigil-gigil dimakamkan.

Di depan perapian tangisku tabah menunggu perempuan itu beranjak dari ranjang matamu.

Alamendah, 17 February 2018

Perkara Cita-Cita

Sebuah bebek plastik mengeluarkan suara kwek yang serak dan parau seperti sedang sekarat, ketika terinjak telapak kaki Halimah. Ia pungut lalu simpan di saku celana. Buat teman mandi.

Halimah lanjut berjalan menyusul Hasan, saudara kecilnya.

Setelah sandal jepit mereka beriringan, Halimah bertanya, “Cita-cita kau apa, San?”

Hasan tentu saja tak langsung menjawab. Ia suka sekali berpikir masak-masak sebelum mengatakan apa pun. Apalagi perkara cita-cita yang baginya teramat penting. Boleh dibilang, ciri yang bikin manusia jadi manusia dan bukan kambing. Jika kambing bisa menyusun cita-cita, mungkin sekarang mereka sudah sampai juga di bulan. Bendera bergambar tanduk bikinan mereka akan terpancang di sebelah bendera Amerika Serikat atau boleh jadi justru di sisi lain satelit Bumi. Continue reading “Perkara Cita-Cita”

Pembajakan Identitas LGBTI dalam Usaha Memproduksi Komedi

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan video berjudul I’m Gay Prank on My Bestfriend di YouTube. Video tersebut memperlihatkan seseorang yang mengusili temannya dengan cara mengaku sebagai gay. Korban prank menunjukkan rasa jijiknya terhadap homoseksual dengan jelas ketika si pengusil berkata bahwa dia menyukainya. Selain verbal, korban bahkan melakukan kekerasan secara fisik. Yang mengejutkan (dan mengerikan), dari total tiga ribuan komentar yang telah ditinggalkan untuk video itu, ternyata kebanyakan penonton merayakannya sebagai humor.   Continue reading “Pembajakan Identitas LGBTI dalam Usaha Memproduksi Komedi”