Poligami: Benar Belum Tentu Bijak

Adanya ayat dalam alquran yang membolehkan poligami (bukan istilah yang tepat tapi di sini sudah kadung dipahami sebagai lelaki beristri lebih dari satu) membuat para pendukungnya merasa berada di atas angin. Sedangkan saya, yang secara sederhana tidak setuju dengan itu, merasa miris. Ya, mau bagaimana lagi, toh agama Islam memang membolehkan satu lelaki memiliki maksimal empat orang istri. Toh agama sudah menyatakan boleh, masa mau dilarang-larang. Melarang orang melakukan hal yang jelas-jelas dibolehkan akan membuat saya nampak seperti sedang menentang agama itu sendiri. Padahal, itu bukan niat saya sama sekali. Saya berusaha untuk selalu menghargai apa yang orang lain percaya.

Continue reading “Poligami: Benar Belum Tentu Bijak”

Yang Problematis dari Petisi Pencekalan Blackpink

Apa hal pertama yang terlintas di pikiran kamu semua ketika melihat Blackpink?

Saya sudah bertahun-tahun menggemari musik k-pop. Tidak hanya menikmati musik dan penampilan boyband dan girlband Korea, saya juga sedikit banyak terpapar pada kisah-kisah tentang perjuangan mereka. Jadi idol itu gak mudah, bok! Tahu Suho yang sekarang jadi leader-nya EXO? Dia melewati masa latihan selama 7 tahun sebelum akhirnya bisa debut sebagai idol. Continue reading “Yang Problematis dari Petisi Pencekalan Blackpink”

Menyaksikan Bala Patriarki Lewat Adegan-Adegan “Bawel” The Window

Dalam bukunya berjudul Budaya Massa, Agama, Wanita (2013), Veven Sp. Wardhana mengatakan bahwa “… film tidak sebatas sebagai ekspresi artistik, atau ekspresi estetika, melainkan wahana dan wacana bagi suatu makna, atau gagasan, ide, ideologi, atau pendapat berkait topik dan tema yang dikemukakan.” Dalam film The Window yang rilis tahun 2016, Nurman Hakim berhasil menjadikan film sebagai media untuk menyampaikan pandangan-pandangannya tentang sebuah topik, dalam hal ini patriarki. Pilihan-pilihan artistik yang ia buat dalam mengolah film ini, dari pewarnaan, sudut kamera, pembentukan adegan, hingga musik latar, dengan efektif “berbicara” pada penonton. The Windows menunjukkan kekuatan film sebagai sebuah media visual di mana cerita disampaikan melalui gambar.

Continue reading “Menyaksikan Bala Patriarki Lewat Adegan-Adegan “Bawel” The Window”

Mengimani Elsa di Pantai Gesing, Yogyakarta

Jarum jam semakin layu. Detik demi detik konstan berjatuhan dalam tarikan gravitasi. Dari satu ke dua ke tiga ke empat ke lima, hingga kumandang azan subuh menembus kaca jendela, bersarang di gendang telinga. Kantuk yang lama dinanti-nanti rupanya tak kunjung tiba. Mungkin kantuk tidak suka hiruk pikuk. Sedangkan dalam kepala saya, suara-suara terus menggema tanpa mempan disuruh diam.
Sepanjang malam, suara-suara itu dengan tekun mengabsen daftar masalah saya. Keuangan yang mengkhawatirkan. Percintaan yang mengenaskan. Pendidikan yang nyaris buntu. Karir tanpa masa depan. Cita-cita yang semakin jauh dari jangkauan. Naskah yang tak kunjung selesai. Self love yang selalu berakhir sebagai konsep belaka. Penerimaan diri yang tak pernah benar-benar dilakoni. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Setiap satu masalah disebut, semakin tinggi saya menarik selimut. Berharap semakin banyak bagian tubuh yang tertutup, akan semakin mudah saya sembunyi. Sembunyi dari masalah-masalah itu. Namun tentu saja itu sia-sia. Karena setelah meloloskan diri dari kepala saya, masalah-masalah itu kini menjelma segala. Bidang hijau dinding kamar, jamur di langit-langit, huruf-huruf pada lembaran buku, bahkan udara yang saya hirup, juga ruang yang saya huni. Dunia menjadi pengingat yang bawel tentang semua masalah yang mengimpit dada saya.
Setelah salat subuh, saya akhirnya terlelap, bukan karena ditimang kantuk melainkan dihantam lelah.
***

Continue reading “Mengimani Elsa di Pantai Gesing, Yogyakarta”

Represi: Sebuah Puk-Puk Untuk Mereka yang Mencoba Lari dari Diri Sendiri

Saya hampir tak pernah pergi ke luar kawasan Bandung kecuali beberapa kali ke Jakarta dan sekitarnya beberapa tahun belakangan. Menjejakkan kaki di tanah yang asing, jauh dari rumah, sama sekali bukan kebiasaan saya. Dan saya, meski sering melakukan hal-hal acak, impulsif dan spontan, tetap memiliki kebutuhan terhadap familiaritas, kebiasaan, keakraban. Saya nyaman berada di lingkungan yang saya telah terbiasa berada di sana. Mungkin salah satu alasannya adalah karena saya sering kesulitan menyesuaikan diri dengan tempat baru, kebiasaan baru, orang-orang asing. Akhir Oktober 2018, sebuah dorongan impulsif membuat saya melanggar sendiri rasa nyaman itu.

Beberapa bulan kemarin, saya sering merasa tidak nyaman, murung dan penuh kecemasan. Hal-hal yang familiar dan dekat dengan saya termasuk rumah, keluarga dan pertemanan justru menjadi sumber pikiran-pikiran buruk yang menyesakkan. Ketika tempat yang biasa  menjadi ruang nyaman berubah jadi tempat menyeramkan, tidakkah wajar jika saya merasa perlu menjauh barang sebentar? Maka sore itu, Jumat 26 Oktober 2018 saya berangkat dari rumah menuju Stasiun Kiaracondong. Menumpang kereta subuh tujuan Stasiun Lempuyangan, saya lari tinggalkan dunia yang selama ini saya kenal. Continue reading “Represi: Sebuah Puk-Puk Untuk Mereka yang Mencoba Lari dari Diri Sendiri”

JANGAN KERDILKAN HIJABMU

Saya laki-laki. Saya tidak mengenakan hijab. Namun, beberapa waktu belakangan saya menyimpan banyak keresahan mengenai bagaimana hijab diterapkan dan dikampanyekan. Saya kemudian mencari berbagai pandangan seputar hijab, melewati masa perenungan yang panjang hingga kini memberanikan diri untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan.

Tulisan ini dibuat tidak dengan maksud menyudutkan siapa-siapa. Saya menaruh hormat pada Islam, hijab, dan perempuan—apapun jenis model pakaian yang ia kenakan. Semua uraian yang saya tuliskan di sini tidak lepas dari konteks pemakaian hijab di Indonesia. Penggunaan kata hijab dalam tulisan ini—meski ketepatannya masih diperdebatkan—dipilih mengikuti istilah yang digunakan secara umum di Indonesia.

Continue reading “JANGAN KERDILKAN HIJABMU”

Pameran Bukan Perawan Maria: Perayaan atas Ragam Tafsir

IMG_20180914_111945_HDR

Adalah hal yang lazim bagi sebuah teks untuk memiliki beragam tafsiran. Bagi saya, keragaman tafsir yang lahir dari sebuah teks tunggal selalu menarik untuk diperhatikan. Apalagi ketika tafsir atas teks itu diwujudkan dalam bentuk karya seni. Seperti karya-karya seni rupa dan gerak yang lahir sebagai tafsir atas cerita-cerita dalam buku “Bukan Perawan Maria” karya Feby Indirani. Karya-karya tersebut kemudian disuguhkan kepada masyarakat dalam sebuah pameran.

Pameran itu bertajuk Pameran Tafsir Rupa dan Gerak Bukan Perawan Maria, diadakan di Gedung Bandung Creative Hub, Bandung, sejak tanggal 8 hingga 16 September 2018. Pada pameran yang disponsori oleh Ford Foundation melalui program Hibah Cipta Media Ekspresi tersebut, Feby menggandeng beberapa perempuan seniman di Bandung untuk berkolaborasi. Mereka terdiri dari lima orang perupa, satu penari dan satu kelompok perempuan lintas disiplin. Masing-masing seniman kemudian memilih satu judul cerita dari Bukan Perawan Maria untuk ditafsirkan.

Dalam sebuah teks pengantar berjudul Perempuan Yang Berani Bertanya yang diletakkan di ruang pamer, Feby Indirani menyatakan bahwa pameran tersebut adalah sebuah ajakan bagi siapa saja untuk berbagi pemikiran dan renungan tentang pengalaman kehidupan beragama dan spiritualitas. Bagi saya, ruang pameran itu kemudian terasa sebagai sebuah ruang tafsir yang terbuka bagi partisipasi siapa saja. Pengunjung datang bukan hanya sebagai pihak yang pasif menyimak tafsiran para seniman, tetapi juga diundang untuk berinteraksi dengan setiap karya kemudian ikut aktif membuat penafsiran mereka sendiri.

Continue reading “Pameran Bukan Perawan Maria: Perayaan atas Ragam Tafsir”