Expert Writing Class GWP 3: Another Dream Comes True

Menuju Expert Writing Class Gramedia Writing Project Batch 3

IMG_20170729_193131

Saya mesti banyak bilang terima kasih sama semesta akhir-akhir ini. Banyak keinginan-keinginan saya yang dikabulkannya. Salah satunya adalah keinginan untuk bisa ikut Expert Writing Class Gramedia Writing Project 3 di Jakarta, tanggal 22 Juli 2017.

Ada cerita panjang tentang bagaimana nama saya akhirnya bisa tertera di daftar peserta Expert Writing Class.

Awalnya, Expert Writing Class hanya diperuntukkan bagi mereka yang lolos seleksi naskah novel via GWP. Saya mengikuti seleksi tersebut tetapi gagal. Nama saya tidak termasuk dalam 90-an naskah yang lolos penyaringan tahap pertama. Perasaan yang muncul waktu itu adalah sedih dan sesal. Sedih karena gak bisa ikut Expert Class, sesal karena saya merasa tidak melakukan usaha terbaik saya.

Continue reading “Expert Writing Class GWP 3: Another Dream Comes True”

Kesempatan Kedua untuk Agama

Saya lahir 27 tahun yang lalu dari orangtua beragama Islam. Seperti orangtua kebanyakan, ayah dan ibu saya pun mengajari saya ritual-ritual (bukan filosofi atau penjelasan substansial tentang) agama sejak saya masih kecil. Tentu, sesuai dengan agama yang mereka anut: Islam. Ketika saya masih kanak-kanak, orangtua saya memilihkan agama yang mesti saya imani sebagaimana mereka memilihkan baju mana yang mesti saya pakai. Bedanya, agama tidak bisa dilepas kapan saja semudah celana.

Meski ayah saya bukan seorang Muslim yang taat, ia tetap berharap saya bisa menjadi anak yang saleh. Meski ibu saya bukan seorang Muslimah yang pandai membaca al-Quran, ia tetap meminta saya untuk rajin mengaji. Ketika saya masih jauh lebih muda dari saat ini, saat saya bisa menerima doktrin agama tanpa pernah merasa terdesak untuk sekali pun bertanya, satu-satunya alasan bagi saya untuk malas pergi ke sekolah agama setiap jam dua siang adalah karena ingin menonton acara televisi.

Tetapi waktu selalu punya cara untuk mengubah dunia dan segenap penghuninya, termasuk manusia. Pada usia awal 20an, keraguan terhadap agama datang kepada saya dalam berbagai pertanyaan. Benarkah Tuhan itu ada? Benarkah manusia memerlukan agama? Apakah manusia tidak bisa mengandalkan akalnya sendiri untuk membangun nilai-nilai moral dan peradaban hingga perlu bertumpu pada seperangkat wahyu untuk dijadikan petunjuk hidup? Jika Tuhan sedemikian agung dan berkecukupan, mengapa ia mesti menciptakan manusia, lengkap dengan satu set permainan bernama hidup-mati dan hari pembalasan? Bisa jadi saya yang kurang rajin mencari jawaban, tapi yang jelas, setelah sekian lama saya masih belum bisa menemukan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan itu.
Continue reading “Kesempatan Kedua untuk Agama”

A Day in Summer

Harus kuakui bahwa acara-acara kompetisi cover dance dan cover sing di Bandung memang masih memuakkan dan jauh dari kata profesional. Para panitia yang mengadakan acara kebanyakan anak ingusan yang belum berpengalaman mengadakan perhelatan besar. Sudah menjadi hal yang biasa jika acara yang seharusnya mulai dua jam lalu sampai sekarang ternyata masih belum dibuka. Tapi bukan itu yang membuat aku gusar saat ini. Sejak semalam, Clarissa tiba-tiba menghilang. Tak bisa kuhubungi sama sekali. Nomornya tidak ada yang aktif. Pesan-pesan yang kukirim ke semua akun media sosialnya juga tak satu pun dibalas.

Aku baru saja kembali menemui salah satu dari orang-orang yang mengenakan tanda pengenal bertuliskan Panitia Acara Bandung Hallyu Summer Competition 2017. Aku tadi menghampiri seorang laki-laki berkacamata yang sepertinya adalah seksi acara untuk kembali menanyakan kapan acara ini sebenarnya akan dimulai. Coba tebak apa jawabannya? Ternyata acara baru akan dimulai jam empat sore. Jika bukan karena menghilangnya Clarissa, partner menariku untuk acara kompetisi kali ini, aku mungkin sudah melempari kakak panita berkacamata itu dengan sepatu stiletto-ku.

Continue reading “A Day in Summer”

The 1st Shop of Coffee Prince: Ketika Jatuh Cinta Membuatmu Hampir Gila (Bag 2)

Annyeong! Di postingan sebelumnya, saya udah kasih gambaran singkat tentang apa itu Coffee Prince dan cerita apa yang disampaikan oleh drama itu. Nah, di postingan kali ini, saya bakal kasih tahu hal-hal apa saja yang bikin saya suka dan tidak suka (ada gak ya? Haha) dari Coffe Prince. Yuk, mari disimak.

Continue reading “The 1st Shop of Coffee Prince: Ketika Jatuh Cinta Membuatmu Hampir Gila (Bag 2)”

The 1st Shop of Coffee Prince: Ketika Jatuh Cinta Membuatmu Hampir Gila (bag. 1)

Dimulai sejak beberapa hari yang lalu, saya memutuskan untuk menonton ulang beberapa drama korea dalam rangka mengumpulkan bahan untuk sebuah proyek pribadi. Dan judul drama korea yang pertama kali muncul dalam benak saya adalah The 1st Shop of Coffee Prince (Coffee Prince). Kenapa? Mungkin karena drama itu meninggalkan kesan yang begitu dalam di hati saya sebagai penonton.

Saya pertama kali menonton Coffee Prince ketika bertahun-tahun yang lalu serial tersebut ditayangkan di Indosiar setiap sore hari. Waktu itu saya baru saja lulus SMA dan sedang menganggur. Kira-kira sembilan tahun yang lalu. Sudah lumayan lama ya? Lama banget! Tapi nyatanya, emosi yang disampaikan dalam drama itu masih samar-samar terasa setiap kali saya membayangkan beberapa adegannya. Haha, iya, saya bahkan masih ingat dengan jelas beberapa adegan dalam film itu beserta emosi yang dikandungnya, meski saya tidak ingat persis dialognya seperti apa.

Coffee Prince

Continue reading “The 1st Shop of Coffee Prince: Ketika Jatuh Cinta Membuatmu Hampir Gila (bag. 1)”

Generation M: Menyibak Pelangi Generasi Muslim di Balik Jendela Hitam Stereotip

Judul                     : Generation M

Generasi Muda Muslim dan Cara Mereka Membentuk Dunia

Penulis                 : Shelina Jamohamed

Penerjemah       : Yusa Tripeni

Penyunting         : Ika Yuliana Kurniasih

Penerbit              : Bentang Pustaka

Cetakan Pertama, Maret 2017

xiv +378 hlm

 

Tentang Penulis:

“SHELINA JANMOHAMED merupakan penulis buku laris Love in a Headscarf, memoar tentang kisah hidupnya sebagai wanita Muslim Inggris. Dia adalah pengamat tren sosial dan religius Islam ternama, khususnya di antara generasi muda muslim dan para wanita Muslim. Dia juga menulis untuk Guardian, National, dan BBC. Dia merupakan wakil presiden Ogivly Noor, sebuah konsultan pencitraan Islam berskala global pertama di dunia yang berpengalaman membangun merek dengan audiensi Muslim. Dia dinobatkan sebagai salah satu dari 500 tokoh Muslim berpengaruh di dunia, dan secara khusus termasuk dalam daftar 100 wanita Muslim paling berpengaruh di Inggris. Institute of Practicioners in Advertising menempatkannya sebagai salah seorang “Tokoh Periklanan Wanita Inggris Masa Depan”.” (Dikutip dari buku Generation M)

Continue reading “Generation M: Menyibak Pelangi Generasi Muslim di Balik Jendela Hitam Stereotip”

Mari Mulai dengan Mimpi

Ketika saya masih jauh lebih muda dari saat ini, saya adalah orang terlalu pesimistis terhadap mimpi. Saya tidak pernah merasa layak untuk berharap bahwa pada suatu hari kata-kata ‘dream comes true’ bisa benar-benar terjadi pada hidup saya. Begitu saya lulus SMA, saya tidak pernah bermimpi untuk bisa kuliah lalu mendapatkan pekerjaan kantoran yang mapan. Keinginan saya cuma sesederhana bisa hidup cukup dengan gaji yang saya peroleh sebagai pekerja pabrik atau pelayan restoran.

Tapi, bahkan di dalam kepungan pesimisme yang sedemikian pekat pun, rupanya masih ada saja mimpi-mimpi yang tak sengaja saya bisikkan dalam hati. Harapan-harapan yang menghiasai lamunan-lamunan siang hari saya. Menjadi pekerja kantoran, membuka sebuah cafe yang menyediakan buku-buku bacaan, membuat perpustakaan, mendirikan organisasi amal, dan lain sebagainya. Ah, mungkin memang sudah jadi watak manusia untuk bermimpi dan memiliki angan-angan. Continue reading “Mari Mulai dengan Mimpi”

Annyeong!

Selamat datang di Ruang Rumpi! Di situs ini, seorang siluman kata-kata (yang insyaallah sudah dijinakkan sama pawangnya) akan mengajakmu untuk berbicara tentang banyak hal dalam rumpian-rumpian yang seru. Mulai dari film, buku, musik, drama korea, hingga hal-hal random seperti isu terkini atau bahkan hal-hal yang gak penting-penting banget. Continue reading “Annyeong!”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑