Mari Mulai dengan Mimpi

Ketika saya masih jauh lebih muda dari saat ini, saya adalah orang terlalu pesimistis terhadap mimpi. Saya tidak pernah merasa layak untuk berharap bahwa pada suatu hari kata-kata ‘dream comes true’ bisa benar-benar terjadi pada hidup saya. Begitu saya lulus SMA, saya tidak pernah bermimpi untuk bisa kuliah lalu mendapatkan pekerjaan kantoran yang mapan. Keinginan saya cuma sesederhana bisa hidup cukup dengan gaji yang saya peroleh sebagai pekerja pabrik atau pelayan restoran.

Tapi, bahkan di dalam kepungan pesimisme yang sedemikian pekat pun, rupanya masih ada saja mimpi-mimpi yang tak sengaja saya bisikkan dalam hati. Harapan-harapan yang menghiasai lamunan-lamunan siang hari saya. Menjadi pekerja kantoran, membuka sebuah cafe yang menyediakan buku-buku bacaan, membuat perpustakaan, mendirikan organisasi amal, dan lain sebagainya. Ah, mungkin memang sudah jadi watak manusia untuk bermimpi dan memiliki angan-angan.

Sekarang, sudah hampir satu dekade saya meninggalkan bangku SMA. Sudah ada banyak hal yang terjadi dalam hidup saya. Hal-hal yang menimpa saya meski telah saya hindari sedemikian rupa. Hal-hal yang tidak pernah saya dapatkan meski telah saya kejar-kejar sekuat tenaga. Hal-hal yang tetap menganggu tidur saya tak peduli betapa keras usaha saya untuk lupa. Hal-hal yang datang meski tak pernah saya pinta. Juga hal-hal yang begitu saja hilang dari pandangan dan menjadikan segala usaha tangan untuk mengenggam menjadi terasa begitu sia-sia.

Setelah melewati sekian banyak naik turun kehidupan, setelah membuat kesalahan-kesalahan, setelah merasakan berbagai kebahagiaan dan kesedihan, kini di sinilah saya telah sampai. Setiap kali saya mencoba memutar kembali hal-hal yang telah belalu, saya menyadari sesuatu: mimpi-mimpi itu ternyata memang menjadi nyata. Meski mungkin tidak dalam skala yang dramatis dan luar biasa, tapi tetap saja, lamunan-lamunan itu terbukti benar-benar dikabulkan.

Selama tiga tahun terakhir sebelum memutuskan untuk membuka usaha sendiri, saya sempat bekerja sebagai karyawan notaris. Keinginan saya untuk menjadi pekerja kantoran, mengerjakan laporan dan bekerja menggunakan komputer (so silly, i know) pun terlaksana. Meski yang saya jual hanya sekadar seblak dan basreng bukannya waffle dan capuccino, di warung tempat saya berjualan, saya menyediakan beberapa buku bacaan yang bisa dinikmati para pembeli sambil menunggu pesanan mereka datang. Meski tidak dalam skala sebesar Kineruku di Bandung atau C2O Library di Surabaya, tapi tidak bisa dibilang bahwa keinginan saya untuk membuka cafe yang menyediakan buku-buku beberapa tahun lalu itu tidak terkabul. Hanya beda skala dan bentuk saja.

Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari kerja keras Al-maun Care dan Kawah Sastra Ciwidey untuk mendirikan sebuah taman bacaan mandiri di Ciwidey hingga akhirnya terlahirlah Sarang Buku Ciwidey. Satu lagi keinginan saya terkabul: untuk mendirikan perpustakaan. Meski bukan perpustakaan pribadi, tapi yang penting orang-orang kini punya tempat untuk menemukan bahan bacaan. Sama saja, kan? Tidak hanya itu, bersama Al-maun Care, saya bisa menjadi bagian dari sebuah kerja sosial untuk memberikan makanan dan pakaian layak kepada para duafa. Saya memang belum punya yayasan atau badan amal, tapi keinginan untuk berbuat kebaikan bagi sesama itu setidaknya tetap bisa terlaksana. Satu lagi mimpi yang terlaksana.

Saya sempat berada di fase tidak memiliki kesibukan apa-apa hingga saya dikepung oleh rasa bosan yang luar biasa. Lalu saya berkata dalam hati: kalau jadi orang sibuk kayaknya enak ya. And here I am now, berusaha mencuri-curi kesempatan untuk menulis di dalam kesempitan saya menjaga warung, melayani pelanggan, mempelajari materi kuliah, mengurusi proyek antologi, dan segala kesibukan lainnya yang begitu menyita waktu. The Pussycat Dolls dalam lagu mereka berjudul When I Grow Up bilang, “be careful what you wish for ‘coz you just might get it”. Mereka benar, haha.

Maka kini, saya tak lagi sedemikian pesimis terhadap mimpi. Hidup telah membuktikan sendiri bahwa mimpi benar-benar bisa menjadi kenyataan. Dan oleh karena itu, saya ingin memulai perjalanan saya di Blog Ruang Rumpi ini dengan sebuah mimpi:

saya ingin menjadi seorang penulis. Penulis yang jujur dan berani menyampaikan ide-ide dan cerita-ceritanya. Penulis yang produktif dan bermutu. Penulis yang tak pernah lupa cara membaca. Penulis yang bisa bertahan dan menikmati hidup dari tulisan-tulisannya. Penulis yang bisa membuat dunia menjadi lebih baik. Penulis yang bisa menghadirkan kebaikan bagi pembaca-pembacanya.

Semoga terkabul. Amin.

Advertisements

5 thoughts on “Mari Mulai dengan Mimpi

Add yours

  1. Mataku berkaca-kaca, senyumku melebar, hatiku hangat.
    Semangat, aa selingkuhan GongYoo 🙌
    Hmm, aku jadi ikut berpikir juga, dan sadar, memang banyak mimpi yg sebenarnya menjadi kenyataan, tp tidak disadari.
    Terima kasih dan aamiin untuk mimpimu kali ini 😊

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: