Generation M: Menyibak Pelangi Generasi Muslim di Balik Jendela Hitam Stereotip

Judul                     : Generation M

Generasi Muda Muslim dan Cara Mereka Membentuk Dunia

Penulis                 : Shelina Jamohamed

Penerjemah       : Yusa Tripeni

Penyunting         : Ika Yuliana Kurniasih

Penerbit              : Bentang Pustaka

Cetakan Pertama, Maret 2017

xiv +378 hlm

 

Tentang Penulis:

“SHELINA JANMOHAMED merupakan penulis buku laris Love in a Headscarf, memoar tentang kisah hidupnya sebagai wanita Muslim Inggris. Dia adalah pengamat tren sosial dan religius Islam ternama, khususnya di antara generasi muda muslim dan para wanita Muslim. Dia juga menulis untuk Guardian, National, dan BBC. Dia merupakan wakil presiden Ogivly Noor, sebuah konsultan pencitraan Islam berskala global pertama di dunia yang berpengalaman membangun merek dengan audiensi Muslim. Dia dinobatkan sebagai salah satu dari 500 tokoh Muslim berpengaruh di dunia, dan secara khusus termasuk dalam daftar 100 wanita Muslim paling berpengaruh di Inggris. Institute of Practicioners in Advertising menempatkannya sebagai salah seorang “Tokoh Periklanan Wanita Inggris Masa Depan”.” (Dikutip dari buku Generation M)

***

Jujur saja, selama beberapa waktu belakangan ini saya merasa lelah dan muak dengan cara sebagian Muslim di Indonesia menunjukkan ekspresi keislaman mereka. Yaitu dengan cara-cara yang menurut saya angkuh, yang menunjukkan seolah mereka adalah pemilik kebenaran absolut. Bisa terlihat dari aksi-aksi yang mereka gelar dan kampanye-kampanye yang mereka lakukan di media sosial. Bagi saya hal itu membuat Islam menjadi terlihat galak, tidak ramah, dan anti terhadap keberagaman.

Sampai tahap tertentu, ekspresi-ekspresi religiusitas penuh kesombongan tersebut bahkan membuat saya merasa risih dan kecewa terhadap Islam itu sendiri. Tanpa sadar saya telah menyematkan berbagai stereotip terhadap Islam dan Muslim di Indonesia. Saya menilai Islam sebagai agama yang kolot dan Muslim sebagai orang-orang yang menolak kemajuan. Ya, asumsi-asumsi itu saya dapatkan hanya dari berita-berita tentang sebagian Muslim di Indonesia yang kebetulan lebih berisik dari sebagian Muslim yang lain.

Di tengah-tengah krisis kepercayaan saya terhadap agama Islam tersebut, saya dipertemukan dengan sebuah buku berjudul Generation M – Generasi Muda Muslim dan Cara Mereka Membentuk Dunia karya Shelina Janmohamed. Buku ini saya dapatkan sebagai hadiah games ketika mengikuti sebuah acara jumpa fans Dee Lestari di Jakarta beberapa waktu lalu. Buku ini sungguh hadir di waktu yang tepat. Mungkin ini yang sering disebut-sebut Dee sebagai sinkronisitas. Generation M membawa banyak perubahan dalam cara saya memandang Islam dan Muslim. Benar-benar tepat seperti apa yang saya butuhkan.

Semua berawal di tahun 2015 ketika dua orang Muslim memaksa masuk ke kantor Charlie Hebdo di Paris kemudian menewaskan sebelas orang dan melukai sebelas orang lainnya yang berada di dalam gedung itu dengan menggunakan senapan dan senjata lainnya. Menurut mereka, aksi pembunuhan tersebut dilakukan sebagai pembalasan dendam Nabi Muhammad SAW terhadap Charlie Hebdo yang telah memuat karikatur beliau. Kejadian tersebut menggegerkan dunia dan menimbulkan aksi protes juga kecaman yang keras dari banyak pihak.

Setelah kejadian tersebut, media dunia didominasi dengan berita mengenai ancaman yang dipertontonkan oleh terorisme. Peristiwa itu juga memperkuat stereotip bahwa “semua teroris adalah Muslim, dan semua Muslim adalah teroris”. Perhatian semua orang seolah terhisap kepada aksi teror yang dilakukan oleh dua orang Muslim itu saja, dan menjauhkan mereka dari kisah-kisah beragam dan penuh warna dari satu miliar lebih Muslim lainnya yang memiliki kehidupan yang normal seperti orang-orang lainnya.

Dari situlah Shelina Janmohamed memulai perjalanannya ke berbagai belahan dunia untuk mengumpulkan beragam cerita dari para Muslim dengan berbagai latar belakang. Namun yang menjadi fokus Shelina adalah mereka yang termasuk dalam Generasi M: kalangan menengah dari generasi muda muslim yang dengan gigih menjalani keimanan mereka sambil tetap menikmati hidup. Yang membuat Generasi M unik adalah cara mereka menanggapi modernisasi. Daripada menolak modernisasi, Generasi M lebih memilih untuk berperan aktif membentuk wajah dunia modern dengan menjadikan keimanan yang mereka pegang teguh sebagai pijakan dan standar yang memandu mereka. Mereka percaya bahwa dengan iman, mereka bisa mewujudkan dunia modern yang jauh lebih baik.

Ada banyak sekali kisah yang begitu membuka mata saya, salah satunya tentang perjuangan Generasi M di beberapa negara minoritas muslim untuk mendorong ketersediaan makanan halal. Sebagai seorang Muslim yang tinggal di negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, saya tidak merasakan banyak hambatan dalam menjalani gaya hidup yang sesuai tuntutan agama. Terutama masalah makanan. Sudah ada Majelis Ulama Indonesia yang bertugas untuk mengurusi sertifikasi halal. Selain itu, karena Muslim adalah mayoritas, secara otomatis ketersediaan makanan halal sudah menjadi kebutuhan bersama.

Berbeda dengan Muslim yang tinggal di negara-negara di mana kebutuhan mereka kerap terpinggirkan hanya karena mereka dianggap sebagai minoritas. Bagi mereka, menemukan makanan halal yang berkualitas dan bervariasi merupakan sebuah tantangan tersendiri. Tetapi tentu saja, Generasi M tidak lantas menyerah kemudian mengompromikan keyakinan mereka. Mereka melakukan berbagai cara untuk membuat orang-orang mendegarkan kebutuhan mereka sambil sekaligus berinovasi, mencari pemecahan bagi masalah yang mereka hadapi.

Shazia Saleem adalah seorang wirausahawati kuliner halal bernama ieat foods yang memulai karirnya dari perasaan frustrasi terhadap betapa minimnya ragam makanan halal yang bisa dia dapatkan. Itulah ciri khas Generasi M, mereka tidak pernah menyerah kepada keadaan. Yang mereka lakukan adalah melahirkan inovasi dan memecahkan masalah. Ada pula Zohra Khaku yang mendirikan HalalGems.com, sebuah situs tempat Muslim bisa mendapatkan informasi tentang restoran-restoran yang menyediakan makanan-makanan halal. Situs seperti ini penting sebagai sebuah usaha bersama untuk saling menjaga dan membantu sesama Muslim agar bisa tetap berada di koridor keimanan mereka.

Selain itu juga ada kisah mengenai betapa kuatnya pengaruh permintaan komunitas Muslim terhadap pakaian sopan dalam membentuk wajah industri fesyen dunia. Selama ini pasar pakaian Muslim tidak pernah menjadi perhatian serius para produsen besar hingga akhirnya bermunculan banyak produsen-produsen pakaian muslim berskala kecil yang hadir untuk memenuhi kebutuhan pasar yang selama ini diabaikan oleh pelaku industri arus utama (kebanyakan dijalankan oleh kaum perempuan). Namun itu semua tentu akan segera berubah. Pelaku pasar arus utama telah menyadari betapa besarnya potensi yang dimiliki oleh pasar komunitas Muslim. Beberapa merek besar fesyen global bahkan sudah mulai mengeluarkan koleksi-koleksi pakaian sopan mereka untuk merespon perkembangan dunia fesyen muslim.

Hal-hal tersebut di atas dan banyak lagi kisah-kisah lainnya di buku ini membuka mata saya bahwa Muslim adalah sebuah komunitas yang besar. Ada lebih dari satu setengah miliar pemeluk Islam di dunia yang berasal dari latar belakang yang beragam lalu menjalani kehidupan di tempat yang memiliki kondisi lingkungan yang beragam pula. Sebagian hidup dengan kemudahan-kemudahan sebagai kelompok mayoritas, sebagian lain menjalani kehidupan mereka dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi sebagai kelompok minoritas.

Generation M menghadirkan kisah-kisah lain dari para Muslim yang mungkin selama ini tidak pernah kita dengar dari media arus utama. Generation M memaparkan dengan gamblang betapa besar pengaruh yang dimiliki oleh generasi muda muslim pada masa depan global kita, baik itu dari sisi sosial, ekonomis, maupun politis.

Selain kekaguman saya terhadap kreativitas yang ditunjukkan oleh Generasi M dalam usaha mereka untuk bisa tetap mendapatkan hal-hal terbaik dalam hidup tanpa perlu meninggalkan keimanan mereka, ada hal lain yang perlu digarisbawahi dari kisah-kisah tersebut. Hal itu adalah fakta bahwa Muslim bisa memiliki banyak wajah dan bentuk ekspresi keimanan.  Generation M menyadarkan saya bahwa segelintir potret kehidupan Muslim yang saya lihat dari media sosial atau tayangan berita, sama sekali tidak mewakili keseluruhan cerita Muslim yang jumlahnya miliaran dan tersebar di seluruh dunia. Apa yang terjadi di Indonesia tidak otomatis menjadi representasi atas umat Muslim seluruhnya.

Generation M hadir menantang segala stereotip yang seringkali disematkan kepada Islam dan Muslim. Termasuk stereotip yang saya sendiri lekatkan kepada Islam dan Muslim sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas tadi. Pandangan publik yang berulang dan membosankan bahwa “muslim adalah teroris”, “Islam itu ketinggalan zaman” dan, “perempuan Muslim itu tertindas” sudah tidak bisa diterapkan lagi ketika kita berhadapan dengan Generasi M.  Bagi saya pribadi, Generation M berhasil menyelamatkan saya dari krisis kepercayaan terhadap Muslim dan Islam. Setidaknya, saya tidak lagi dengan mudah mamasang berbagai label kepada Muslim ataupun Islam, karena kini saya tahu, yang saya pahami dari Muslim dan Islam hanyalah seperti sehelai daun yang jatuh di belantara hutan.

Buku ini sangat layak dan penting untuk dibaca bagi siapa saja yang ingin lebih memahami karakteristik generasi muda Muslim. Jika anda adalah seorang pengusaha, buku ini bisa menjadi langkah awal bagi anda untuk menyiapkan produk dan pelayanan-pelayanan yang ramah Muslim dan memenuhi standar Islam untuk anda pasarkan di komunitas Muslim yang merupakan pasar terbesar dunia setelah Amerika dan China. Jika anda sendiri adalah bagian dari Generasi M, maka buku ini bisa membantu anda untuk terhubung dengan rekan-rekan sesama Generasi M di belahan dunia yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: