The 1st Shop of Coffee Prince: Ketika Jatuh Cinta Membuatmu Hampir Gila (bag. 1)

Dimulai sejak beberapa hari yang lalu, saya memutuskan untuk menonton ulang beberapa drama korea dalam rangka mengumpulkan bahan untuk sebuah proyek pribadi. Dan judul drama korea yang pertama kali muncul dalam benak saya adalah The 1st Shop of Coffee Prince (Coffee Prince). Kenapa? Mungkin karena drama itu meninggalkan kesan yang begitu dalam di hati saya sebagai penonton.

Saya pertama kali menonton Coffee Prince ketika bertahun-tahun yang lalu serial tersebut ditayangkan di Indosiar setiap sore hari. Waktu itu saya baru saja lulus SMA dan sedang menganggur. Kira-kira sembilan tahun yang lalu. Sudah lumayan lama ya? Lama banget! Tapi nyatanya, emosi yang disampaikan dalam drama itu masih samar-samar terasa setiap kali saya membayangkan beberapa adegannya. Haha, iya, saya bahkan masih ingat dengan jelas beberapa adegan dalam film itu beserta emosi yang dikandungnya, meski saya tidak ingat persis dialognya seperti apa.

Coffee Prince

Apakah sembilan tahun merupakan waktu yang sudah terlalu basi bagi siapa saja untuk menulis sebuah review? Mungkin iya, tapi saya gak peduli. Saya tetap ingin menuliskan hal-hal yang bikin saya jatuh cinta pada drama yang satu ini. Bahkan, as a matter of fact, pada saat kemarin saya menonton ulang, bukannya merasa bosan karena saya sudah tahu jalan ceritanya, yang ada malah bapernya semakin menjadi-jadi.

Harap maklum, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam waktu sembilan tahun itu saya hidup, tumbuh dan mengalami berbagai macam kejadian yang pada akhirnya membuat saya merasa jauh lebih terhubung dengan beberapa aspek dalam cerita Coffee Prince. Itu adalah satu di antara hal-hal yang membuat saya kagum pada Coffee Prince: ceritanya tetap relevan meski sudah hampir satu dekade telah berlalu sejak pertama kali ditayangkan.

Kilasan Cerita

Coffee Prince menceritakan dinamika hubungan dua orang manusia: Choi Hangyeol, seorang laki-laki berusia akhir 20-an yang dibesarkan di keluarga pemilik sebuah perusahaan makanan besar; dan Go Eunchan, seorang perempuan tomboy usia pertengahan 20-an yang rela berpura-pura menjadi laki-laki demi menjalani perannya sebagai tulang punggung keluarga.

Untuk menghidupi keluarganya, Eunchan melakukan banyak pekerjaan paruh waktu: menjadi pengantar susu, menjadi guru taekwondo, menjahit mata boneka, mengupas kacang, hingga menjadi pengantar makanan di sebuah restoran. Pekerjaannya yang bermacam-macam dan mengharuskan dia pergi ke tempat-tempat berbeda mempertemukannya dengan orang-orang yang akan mengubah hidupnya. Salah satunya Choi Hangyeol.

Sedangkan Choi Hangyeol yang anak orang kaya baru saja pulang dari Amerika atas permintaan keluarganya. Choi Hangyeol dikenal sebagai laki-laki yang tidak terlalu mementingkan masa depannya. Di Amerika dia bekerja sebagai desainer lego lepasan. Menurut keluarganya, desainer mainan bukanlah sebuah karir yang cukup serius. Maka dia diminta untuk pulang dan meneruskan usaha (plus garis keturunan) keluarganya. Tapi, semua orang di keluarganya tahu bahwa Choi Hangyeol bukan tipe orang yang bisa dipaksa untuk melakukan hal yang tidak diinginkannya.

Demi menyenangkan hati nenek yang begitu ia sayangi, Hangyeol berpura-pura pasrah mengikuti serangkaian program kencan buta yang diatur oleh neneknya. Tapi tentu, Hangyeol hanya bersedia melakukannya karena dia punya rencana lain sebagai taktik untuk mengelak. Hangyeol kemudian memanfaatkan Eunchan yang pertama kali ia temui di rumahnya saat Eunchan mengantarkan makanan.

Hangyeol yang pada saat itu mengira bahwa Eunchan adalah seorang laki-laki mempekerjakannya sebagai aktor bayaran. Pada setiap acara kencan buta yang dihadiri Hangyeol, Eunchan akan berperan sebagai pacar gay Hangyeol demi membuat para perempuan yang dijodohkan dengan Hangyeol merasa jijik dan membatalkan kencan mereka. Dalam prosesnya, mereka akhirnya mulai mengenal satu sama lain sedikit demi sedikit.

Hangyeol menjadi tahu bahwa Eunchan adalah seorang yang gigih dan pekerja keras. Karena itulah dia langsung menjadikannya karyawan pertama di Coffee Prince, kedai kopi yang dikelola Hangyeol sebagai tantangan dari neneknya. Jika dalam waktu tiga bulan Hangyeol bisa mengembalikan investasi neneknya dalam jumlah tiga kali lipat, maka Hangyeol akan diijinkan untuk kembali ke Amerika dan menjalani kehidupan yang dia pilih sendiri tanpa diganggu lagi oleh permintaan-permintaan keluarganya.

Coffee Prince 1

Hubungan Hangyeol dan Eunchan sebagai atasan dan bawahan tidak pernah berjalan mulus. Hal ini disebabkan karena dalam hati mereka masing-masing mulai tumbuh perasaan jatuh cinta pada satu sama lain. Tapi hanya karena dua orang saling mencintai, tidak lantas semua urusan menjadi lancar jaya bukan? Eunchan tidak bisa dengan leluasa mengungkapkan perasaan istimewanya kepada Hangyeol karena dia harus menjaga penyamarannya sebagai seorang laki-laki. Oh iya, saya lupa bilang ya? Coffee Prince hanya menerima karyawan yang berjenis kelamin laki-laki supaya sesuai dengan konsep yang ingin mereka usung. Karena keadaan keuangannya sedang sangat sulit, akhirnya Eunchan memanfaatkan kesalahpahaman Hangyeol yang menganggapnya laki-laki supaya bisa bekerja di Coffee Prince. Jika penyamarannya terbongkar, Hangyeol pasti akan langsung memecatnya.

Hal yang sama juga terjadi pada Hangyeol. Perasaan sukanya terhadap Eunchan bahkan membuat dia mempertanyakan kewarasannya sendiri. Dia tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan jatuh cinta pada seorang laki-laki. Tapi betapa keras pun Hangyeol mencoba untuk mengenyahkan perasaannya pada Eunchan, dia selalu gagal. Bayangan wajah Eunchan dan tingkahnya yang konyol tapi selalu membuat Hangyeol merasa bahagia selalu muncul di benak Hangyeol. Karena rasa frustrasinya, Hangyeol sering mengerjai Eunchan sehingga mereka akhirnya terlibat pertengkaran yang seolah tak ada habisnya.

Coffee Prince 2

Hal ini membuat kita bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada kisah cinta mereka berdua. Apakah Eunchan akan selamanya bungkam tentang identitasnya yang sebenarnya meski itu artinya ia harus kehilangan Hangyeol? Apakah Hangyeol akan bisa melupakan Eunchan dan kembali menjalani kehidupan yang ‘normal’? Atau dia akan nekat menyatakan cintanya pada ‘karyawan laki-lakinya’ itu meski artinya dia harus siap akan risiko kehilangan teman dan keluarga?

Tanpa perlu ada peran antagonis yang menyebalkan, kisah cinta antara Hangyeol dan Eunchan sudah cukup untuk mengaduk-aduk emosi semua penonton. Hanya karena mereka saling mencintai, bukan berarti mereka tidak mengalami hal-hal yang menghancurkan hati. Drama dengan cerita seperti ini benar-benar tipe drama bergenre komedi romantis yang sesuai dengan selera saya.

Di postingan selanjutnya, saya akan membeberkan hal-hal yang saya suka dan tidak sukai dari drama Coffee Prince. Jangan lupa untuk baca, ya! Sambil nunggu, bolehlah minum kopi dulu.

***

*semua gambar dari google

Advertisements

One thought on “The 1st Shop of Coffee Prince: Ketika Jatuh Cinta Membuatmu Hampir Gila (bag. 1)

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: