A Day in Summer

Harus kuakui bahwa acara-acara kompetisi cover dance dan cover sing di Bandung memang masih memuakkan dan jauh dari kata profesional. Para panitia yang mengadakan acara kebanyakan anak ingusan yang belum berpengalaman mengadakan perhelatan besar. Sudah menjadi hal yang biasa jika acara yang seharusnya mulai dua jam lalu sampai sekarang ternyata masih belum dibuka. Tapi bukan itu yang membuat aku gusar saat ini. Sejak semalam, Clarissa tiba-tiba menghilang. Tak bisa kuhubungi sama sekali. Nomornya tidak ada yang aktif. Pesan-pesan yang kukirim ke semua akun media sosialnya juga tak satu pun dibalas.

Aku baru saja kembali menemui salah satu dari orang-orang yang mengenakan tanda pengenal bertuliskan Panitia Acara Bandung Hallyu Summer Competition 2017. Aku tadi menghampiri seorang laki-laki berkacamata yang sepertinya adalah seksi acara untuk kembali menanyakan kapan acara ini sebenarnya akan dimulai. Coba tebak apa jawabannya? Ternyata acara baru akan dimulai jam empat sore. Jika bukan karena menghilangnya Clarissa, partner menariku untuk acara kompetisi kali ini, aku mungkin sudah melempari kakak panita berkacamata itu dengan sepatu stiletto-ku.


Bayangkan saja, pada saat technical meeting (yang sebetulnya lebih mirip obrolan di kantin sekolah, tak ada kesan resmi dan teratur sama sekali) panitia bilang bahwa semua peserta sudah harus ada di tempat acara—sebuah mal di sekitar Pasteur—pada jam sepuluh pagi karena acara akan dimulai pada pukul dua belas siang. Dan sekarang dengan enteng mereka bilang bahwa acara akan dimulai pukul empat sore? Yang benar saja.

Tapi kali ini lain. Aku malah lega karena itu artinya aku masih punya waktu beberapa jam untuk mencari di mana Clarissa berada. Meski sebetulnya aku sudah merasa buntu saat ini. Entah ke mana lagi aku harus mencarinya. Aku tak punya kontak teman-teman Clarissa yang lain untuk aku tanyai. Tidak mengherankan karena aku dan Clarissa sama sekali bukan teman dekat. Kami bahkan bisa dibilang saingan bebuyutan sebelum akhirnya empat bulan yang lalu dia mengajakkku untuk berkolaborasi membentuk sebuah grup cover dance. Dia bilang waktu itu, jika kami bergabung, tentu kami akan menjadi tim cover dance terbaik yang ada di Bandung tanpa harus bersaing dengan siapa pun. Hari ini adalah debut pertama kami sebagai sebuah tim dan dia malah mengacaukannya.

Clarissa adalah seorang penari yang handal. Dari caranya menggerakkan tubuh, aku bisa melihat sebanyak apa waktu yang telah dia habiskan untuk berlatih. Selain itu, wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang semampai juga menjadi nilai tambah. Tapi lebih dari itu semua, Clarissa punya pesona yang amat kuat ketika dia berada di atas panggung. Tatapan matanya, gerak lengannya, cara dia tersenyum, selalu berhasil membuat semua orang terpana. Kharismanya ketika menari di pentas bisa menelan siapa saja. Tak akan ada orang yang bisa begitu saja berlalu setelah melihat Clarissa menari, semua orang akan berhenti dan menyaksikannya sampai musik berhenti.

Aku percaya, Clarissa sendiri punya andil paling tidak lima puluh persen dalam membuat grup cover dance-nya, Starcatcher, bisa melesat masuk ke dalam jajaran sepuluh besar grup cover dance paling populer di seantero Bandung hanya dalam waktu setahun. Selain tentu karena tim mereka memang selalu maksimal dalam setiap penampilan. Bahkan kudengar untuk setiap kostum yang mereka pakai, mereka sengaja menyewa desainer untuk membuatkan rancangannya. Belum lagi peran pelatih tari kondang yang mereka sewa secara privat setiap kali mereka mempersiapkan penampilan untuk perlombaan.

Meski begitu, tak berarti Clarissa tak punya saingan. Akulah saingan beratnya. Aku sudah jatuh cinta pada dunia cover dance sejak aku masih kelas dua SMP. Meski aku belum ikut dalam perlombaan-perlombaan, aku selalu berlatih dengan giat di rumah. Guruku tak lain adalah video-video dance tutorial yang kuunduh dari internet. Begitu masuk SMA aku bergabung dengan grup cover dance Sunny Day yang waktu itu baru saja terbentuk. Selama setahun penuh kami berlatih setiap minggu tanpa absen di tempat-tempat kosong di halaman Balai Kota Bandung. Dan di tahun berikutnya, berkat kerja keras kami semua, Sunny Day jadi juara dua Hallyu Summer Competition 2016.

Kemudian aku terpikir sesuatu. Meski Clarissa sudah meninggalkan Starcatcher untuk membentuk grup baru denganku, Starcatcher tidak pernah bubar. Dan Hallyu Summer Competition adalah salah satu kompetisi penting (meski penyelenggaraannya masih acak-acakan) karena penampil terbaik di sini biasanya terpilih menjadi nominator di ajang Hallyu Wave Festival, semacam acara penghargaan untuk para pelaku cover dance dan cover sing di Bandung. Itu artinya, kemungkinan besar Starcatcher tidak akan absen untuk ikut bertanding. Jika mereka benar-benar datang maka seharusnya aku bisa bertanya pada mereka tentang keberadaan Clarissa. Setidaknya mereka sudah berteman lama. Mungkin mereka tahu sesuatu. Tidak ada salahnya dicoba. Lalu aku merasa bodoh karena tidak memikirkan ini dari tadi.

Dengan setengah berlari aku kemudian kembali ke sekitar panggung. Aku langsung menuju bagian pendaftaran ulang peserta lomba. Aku meminta mereka untuk menunjukkan daftar lengkap peserta Hallyu Summer Competition 2017. Meski agak bingung, penjaga pos pendaftaran ulang akhirnya menunjukkan daftarnya padaku. Kuperiksa nama-nama yang tertulis dalam daftar itu dengan saksama. Satu per satu. Dan, ya! Aku menemukan Starcatcher di urutan 27. Tapi saat kutanya pada panitia, ternyata Starcatcher belum melakukan daftar ulang. Sial!

Tanpa buang-buang waktu aku berjalan cepat-cepat mengitari area mal. Aku menyisir tempat itu seperti polisi yang sedang mencari buronan. Starcatcher memang belum melakukan daftar ulang, tapi mereka mungkin sudah berada di sini. Mungkin mereka sedang memakai kostum, mengenakan make up atau mungkin sedang berlatih. Tiba-tiba saja aku berharap aku mempunyai penciuman setajam anjing polisi supaya bisa melacak keberadaan mereka dengan lebih mudah.

Aku tak benar-benar menghitung tapi aku yakin sudah lebih dari tiga kali aku mengelilingi mal ini. Tapi mereka tak juga kutemukan. Tidak di gerbang depan, tidak di lantai satu, tidak di lantai dua, tiga, rooftop, basement, tidak juga di parkiran. Mereka tidak ada di mana-mana. Tidak Clarissa, tidak juga Starcatcher. Dengan napas yang terengah-engah seperti ini, mungkin saat ini aku sudah benar-benar terlihat mirip anjing. Yang membedakanku dari anjing selain penciumanku yang mengenaskan adalah staminaku yang payah. Lututku sudah menyerah, aku tak sanggup berjalan lagi. Aku tak benar-benar yakin, tapi sepertinya aku juga sudah mulai menangis.

Aku tak tahan dengan suara-suara yang ada di dalam kepalaku. Suara-suara itu berkata bahwa aku telah melakukan kesalahan. Seharusnya aku lebih memilih Sunny Day ketimbang Clarissa. Seharusnya aku tetap bersama teman-temanku dan bukannya mengejar popularitas bersama Clarissa. Seharusnya aku mendengarkan peringatan teman-temanku. Seharusnya aku tidak begitu saja percaya pada Clarissa. Mungkin saja dia punya rencana lain di balik ini semua. Bagaimana jika ternyata ini adalah jebakan untuk menjatuhkanku? Aku ingin sekali menyalahkan Clarissa tapi aku sadar bahwa akulah yang terlalu bodoh. Ambisiku telah membuatku buta.

Jantungku masih berdetak kencang sekali. Tubuhku basah oleh keringat. Aku berjongkok dan bersandar di dinding luar mal dekat pintu masuk menuju parkiran motor. Dalam hati kecilku aku masih berharap Clarissa datang dan menyelamatkanku dari kepanikan ini. Iya, aku bodoh dan putus asa.

Aku sedang mengurut kedua pelipisku sebagai sebuah usaha sia-sia untuk menghilangkan rasa sakit di kepala ketika seseorang menyodorkan sebotol air mineral dingin dengan tetes-tetes embun di bagian luar kemasannya. Karena aku hanya melongo tanpa meraih botol air yang ia sodorkan, lelaki itu kemudian ikut berjongkok di hadapanku, memutar tutup botol air itu lalu membukanya. Setelah itu sekali lagi ia menawarkannya kepadaku. Saat itulah aku sedikit menengadah untuk melihat wajahnya. Oh, ternyata dia. Dinky, seorang cover dancer dari Cimahi yang tahun lalu dinobatkan sebagai cover dancer terbaik kategori Namja Sunbae pada acara Hallyu Wave Festival yang diadakan Asosiasi Cover Dance dan Cover Sing se-Bandung Raya.

Aku dan Clarissa masuk nominasi cover dancer terbaik kategori Yeoja Hoobae, tapi kami berdua kalah. Kategori itu dimenangkan oleh seorang siswi kelas dua SMA dengan nama panggung Jasmine Lee yang memang sudah menjadi pujaan orang-orang sejak dua tahun lalu dia terjun ke dunia cover dance. Tapi tahun ini, berhubung Jasmine Lee sudah naik kelas ke kategori Sunbae maka yang akan bersaing habis-habisan di kategori Yoeja Hoobae adalah aku dan Clarissa.

Bukan bermaksud sombong, tapi memang tidak ada kandidat lain yang cukup kuat untuk ikut bersaing bersama kami berdua. Lagi pula, aku sudah bekerja amat keras untuk bisa sampai di posisiku saat ini. Tapi jika kejadiannya seperti ini, aku tak tahu lagi. Mungkin ini saatnya aku jatuh ke dasar jurang bahkan sebelum pernah sampai ke puncak.

Aku hanya menatap mata Dinky dengan pandangan tanpa minat. “Yang aku butuhkan saat ini adalah si Clarissa bodoh itu, bukan sebotol air.”

“Jangan berlaga bego. Siapa pun yang melihat keadaanmu yang menyedihkan seperti ini akan setuju denganku bahwa kamu seharusnya berada di atas matras puskesmas dan bukannya di acara lomba cover dance.”

Melihatku yang memandangnya dengan tatapan tak percaya (sebetulnya ini adalah tatapan sok angkuh demi mempertahankan gengsi) membuat Dinky mengeluarkan telepon genggam dengan casing bergambar animasi para member BTS dari saku celana skinny jeans-nya, menyalakan kamera lalu menghadapkannya ke arah mukaku. Sialan! Dia benar. Aku terlihat kacau. Rambutku acak-acakan dan riasanku sudah tak karuan. Aku terlihat lebih mirip badut frustasi yang baru saja mengacaukan sebuah pesta ulang tahun daripada seorang calon pemenang kompetisi menari. Aku sudah berantakan sekarang. Aku tamat.

Aku tak berusaha memberontak sedikit pun ketika selanjutnya Dinky meraih lenganku yang lemas dan menuntunku berjalan ke seberang mal. Aku ingat Dinky menawarkan diri untuk menggendongku tapi tentu saja aku menolak. Aku memang korban hallyu wave tapi aku bisa dengan jelas membedakan antara kenyataan dengan adegan dalam drama korea. Dia membawaku masuk ke sebuah jalan besar menuju daerah pemukiman. Aku tak pernah ke wilayah ini sebelumnya. Aku tak tahu ke mana Dinky akan membawaku tapi aku terlalu lemas untuk mempertanyakannya. Sesekali kurasakan Dinky menoleh ke arahku. “Sebentar lagi sampai,” katanya ketika ia menyadari bahwa wajahku semakin pucat.

Setelah berjalan sekitar lima puluh meter di jalan itu, kami kemudian berbelok ke sebuah gang kecil. Ada banyak anak-anak berkeliaran di sana. Sebagian dari mereka sedang bermain kejar-kejaran. Sebagian lagi sedang membaca buku di teras rumah mereka. Ada juga yang sedang lelap tertidur di pangkuan ibunya.

“Nah, kita sudah sampai,” Dinky memberi tahu.

Ia kemudian masuk ke dalam salah satu rumah di sisi kiri deretan perumahan dalam gang itu. Di pintunya yang terbuka ada sebuah penanda kayu yang menggantung bertuliskan: Selamat Datang di Happiness Corner. Di teras keramiknya yang lumayan lega ada dua meja bundar dengan masing-masing tiga buah kursi mengelilingi meja-meja itu. Dari dalam kudengar sayup-sayup suara musik instrumental bernada ceria.

“Anna, masuklah,” ajaknya. Dengan ragu-ragu aku pun mengikutinya ke dalam. Ternyata dari sinilah aroma kopi yang samar-samar tercium di sepanjang gang tadi berasal. Rumah ini rupanya sudah disulap menjadi sebuah kafe. Daftar menunya digambar di dinding sebelah kanan di belakang bar terbuka yang berfungsi sebagai papan tulis. Seseorang bercelemek hitam yang sepertinya adalah barista menyapaku dengan sebuah senyum yang ramah. Senyuman itu kubalas dengan cengiran yang rikuh. Karena Dinky tiba-tiba menghilang ketika aku melihat-lihat interior cafe ini, aku memutuskan untuk duduk di pojok sambil menunggu.

Sekitar sepuluh menit kemudian Dinky datang dari arah ruangan bertanda “Selain Karyawan Dilarang Masuk” tertempel di pintunya sambil membawa nampan berisi pancake ber-topping es krim cokelat dan dua cangkir kopi latte. Ia meletakkan piring pancake itu di tengah meja dan menyodorkan satu cangkir latte ke arahku. Awalnya aku tak memerhatikan, tapi ketika aku lihat lebih lama aku menyadari sesuatu pada latte art di cangkir kopiku. Ada sebuah tulisan “Himne!” dalam karakter Hangul dengan sebuah lengkung serupa senyuman di bawahnya.

“Ini kamu yang bikin, Ky?” tanyaku penasaran.

Dia tersenyum lalu menjawab, “Iya, aku yang bikin khusus.”

“Makasih, ya.” Memandangi latte art itu membuatku tersenyum. Sepertinya itu adalah senyum pertama yang lahir di wajahku dalam belasan jam terakhir. Dan ketika Dinky bertanya apa yang terjadi, aku tak ragu-ragu untuk menceritakan semuanya.

“Clarissa orang baik, Anna. Aku tahu itu. Jangan tanya kenapa aku tahu. Yang jelas aku cukup dekat dengannya untuk bilang padamu bahwa Clarissa tidak mungkin merencanakan hal yang bukan-bukan. Dia memang agak belagu dan sombong, juga sedikit judes, tapi dia bukan orang jahat.” Itu yang diucapkan Dinky padaku begitu aku selesai menceritakan kenapa mukaku terlihat kacau balau hari ini. Aku hanya bisa mengangguk, berusaha untuk percaya bahwa apa yang dia katakan itu benar.

Tapi tetap saja, jika Clarissa tidak juga muncul, aku tak tahu apa yang akan kulakukan di atas panggung nanti. Untuk penampilan hari ini, Clarissa dan aku sudah menyiapkan lagu I Love You dari 2ne1 yang koreografinya sudah kami sesuaikan sehingga cocok untuk ditampilkan berdua. Jika aku ngotot untuk menampilkannya sendirian, maka dijamin aku akan terlihat super aneh. Aku mungkin akan disuruh turun dari panggung bahkan sebelum lagunya selesai. Membayangkannya saja aku tak tahan.

Selain jago menari, sepertinya Dinky juga bisa mebaca pikiran cewek yang ada di hadapannya. Mungkin itu juga salah satu hal yang membuat dia jadi begitu populer di kalangan cewek-cewek. Buktinya, dengan tenang dia memberiku saran untuk keluar dari krisis ini tanpa perlu kuminta.

“Pertama-tama kita harus memperbaiki dandananmu yang sudah sampai di taraf menyedihkan ini. Dan… sepertinya kamu juga butuh kostum baru. Oh iya, lebih baik kamu mandi dulu sekalian. Badanmu sudah basah kuyup dengan keringat. Kamu terlihat seperti pelari maraton yang salah kostum lalu kabur ke sini karena malu.” Ya ampun, ternyata Dinky yang selama ini terlihat cool di panggung bisa jadi tiba-tiba cerewet.

“Oke, oke, tapi di mana aku bisa mandi, cari kostum dan memperbaiki make up-ku?”

“Di sini,” jawabnya kalem.

“Hah? Di sini?” Aku bersumpah akan meninju muka Dinky dengan segenap sisa tenaga yang kupunya jika dia terbukti mencoba mengerjaiku setelah mendengar semua yang kualami hari ini. Apalagi sekarang dia malah tersenyum nakal. Aku sudah mengepalkan tanganku, nih.

Saat itu dari belakangku tiba-tiba muncul seorang perempuan cantik berambut panjang yang ujungnya dicat berwarna-warni.

“Kenalkan, ini kakakku. Namanya Kartika. Dia adalah seorang make up artist merangkap fashion stylist profesional. Biasanya sih sibuk ke mana-mana. Kebetulan banget hari ini dia lagi gak ambil kerjaan. Sudah rejekinya kamu kayaknya.” Dinky menjelaskan dengan semangat tanpa sempat kuminta.

“Halo. Kenalin, aku Kartika. Aku ada peralatan make up lengkap dan beberapa stel baju di lantai atas. Pasti ada yang cocok buat kamu. Apalagi kamu udah cantik, pakai apa saja pasti bagus,” katanya sambil tersenyum. Sepasang lesung pipi membuat wajahnya terlihat semakin manis. Dan aku hanya bisa melongo melihat kecantikannya.

“Tapi sebelum itu, kamu harus mandi dulu. Mari ikut aku.”

Aku menoleh pada Dinky yang kemudian membalasku dengan anggukan yakin. Baiklah, semoga dia tidak berbohong.

“Eh, tapi sekarang jam berapa?” tanyaku sambil mengedarkan pandangan ke setiap badan tembok kafe demi mencari jam dinding.

“Jam dua. Masih ada dua jam sebelum acaranya dimulai. Oh iya, selagi kamu mandi dan bersiap-siap, pikirkan rencana lain yang bisa kamu lakukan jika Clarissa betul-betul tidak muncul hari ini.”

“Aku nggak yakin, Ky.” Ucapku lemas.

“Ayolah, aku tahu kamu penari yang cerdas. Kamu pasti bisa memikirkan sesuatu,” jawabnya dengan mantap. Dan aku cuma bisa tersenyum getir. Lucu sekali rasanya ketika ada seseorang yang begitu yakin padamu padahal kau sudah tak percaya sama sekali pada dirimu sendiri.

Dinky pamit lebih dulu kembali ke mal untuk berkumpul bersama teman segrupnya saat aku dibawa masuk ke ruangan “Selain Karyawan Dilarang Masuk” oleh Kartika. Dia berjanji untuk segera mengabariku jika nanti dia melihat Clarissa atau member Starcatcher yang lain. Untuk saat ini aku hanya bisa menyerahkan nasibku pada kakak perempuan Dinky sambil terus berdoa semoga keajaiban benar-benar datang. Entah Clarissa yang muncul dan menari bersamaku seperti rencana semula atau otakku bisa memikirkan sesuatu yang paling tidak bisa menyelamatkan mukaku. Terserah, yang mana saja boleh, Tuhan.

Pukul tiga lebih lima menit aku keluar dari Happiness Corner dengan baju baru yang dipilihkan Kartika setelah dia melihat lagu-lagu yang ada dalam daftar putar di telepon genggamku. Entah apa yang dia temukan di sana. Dia memilihkanku sebuah bodysuit lengan panjang berwarna hitam yang dipadukan dengan celana jeans pendek yang memperlihatkan hampir semua bagian pahaku dan sebuah jaket belel berbahan denim. Make up-ku terkesan berani dan menarik perhatian tanpa malu-malu. Lipstik merah, eye shadow berwarna keemasan dan eye liner lebar yang meruncing di kedua ujungnya. Aku merasa seksi dan percaya diri.

Sepiring pancake dan tambahan secangkir latte yang kulahap sebelum meninggalkan Happiness Corner lumayan ampuh untuk mengembalikan tenagaku yang tadi rasanya sudah terkuras habis. Mereka benar-benar baik. Dinky, Kartika dan Yohan si pemilik kafe yang membuatkanku pancake super enak itu. Sungguh tiga bersaudara yang cantik luar dalam. Ibu dan ayah mereka pasti telah menyelamatkan negara di kehidupan sebelumnya.

Kuputuskan untuk kembali masuk ke dalam gedung mal sambil menunggu. Tapi aku tak yakin bisa tetap waras jika harus menunggu sambil berdiam diri. Aku berusaha keras menghilangkan segala pikiran buruk dalam benakku dengan cara berlatih. Jujur saja, aku masih belum menemukan rencana bagus jika ternyata Clarissa tak juga hadir hingga giliran kami untuk tampil tiba.

Di dalam mal, aku melihat sudah ada beberapa tim lain yang menggunakan sudut kosong di lantai tiga sebagai tempat berlatih. Mereka menyalakan musik dari telepon genggam mereka kemudian melatih kembali koreografi yang akan mereka tampilkan nanti. Mereka tampak begitu antusias dan mata mereka dipenuhi dengan semangat. Melihat mereka menari membuatku betah dan lebih rileks.

Aku sempat termenung untuk beberapa detik. Melihat senyum mereka yang begitu ceria ketika menari membuat dadaku yang semula masih agak sesak karena panik menjadi terasa lumayan longgar. Aku melihat kebahagiaan di mata mereka. Gerakan-gerakan mereka memang masih belum rapi, dan kadang-kadang beberapa member bahkan lupa bagiannya sendiri. Tapi mereka telihat senang dan tanpa beban. Dilihat dari segi teknik, aku tahu aku mungkin penari yang lebih baik dari mereka, tapi aku ragu apakah itu membuatku menjadi penari yang lebih bahagia.

Secara acak, aku memainkan lagu-lagu dari daftar putar berjudul “favorit kpop dance songs” di telepon genggamku. Aku mengenakan handsfree dan menyimpan telepon genggamku di saku dada jaket denimku. Begitu lagu-lagu kesukaanku berputar di telinga, dunia seolah tenggelam dalam bayangan hitam. Yang ada cuma aku dan musikku. Dengan bebas dan leluasa aku menggerakkan badanku mengikuti alunan musik.

Semua perasaan kesal, gugup, marah, takut, dan menyalahkan diri sendiri yang semula memenuhi hatiku pelan-pelan terkikis. Aku mencoba menghilangkan semua ambisi yang selama ini membebani kaki dan tanganku. Seperti mereka, aku ingin menari dengan bebas dan tanpa beban. Aku ingin kembali menikmati sensasi menari tanpa perlu menjadi tergila-gila untuk menjadi yang terbaik. Aku hanya ingin menjadi bahagia, cukup.

Saat itu aku merasakan seseorang menepuk pundakku dengan lembut dan membawaku kembali ke dunia nyata. Aku menoleh melewati pundakku dan menemukan Dinky yang sedang tersenyum. Dia kini sudah mengenakan kostum dan memakai make up tipis. Rambutnya yang cokelat tua terlihat berkilau dan jatuh dengan indah menutupi sebagian dahinya. Ia terlihat tampan mengenakan kemeja hitam berbahan satin dengan luaran jas hitam bermotif floral emas mengilat. Kontras dengan warna kulit mukanya yang putih bersih. Membuatnya terlihat lebih bercahaya.

“Kamu terlihat cantik, Anna.”

“Kamu juga terlihat tampan, Dinky.”

Kami berdua kemudian saling melempar senyum. Sebetulnya aku hampir meleleh melihat senyumannya yang manis. Sesuatu yang jarang kulihat karena Dinky selalu tampil kalem dan cool di atas panggung. Tapi lain denganku, Dinky sepertinya masih sangat mampu untuk mengendalikan diri. Tanpa waktu lama, dia langsung menyeretku kembali ke topik Hallyu Summer Competition.

“Jadi bagaimana? Apakah kamu sudah punya ide? Clarissa dan member Starcatcher masih belum kelihatan batang hidungnya sampai sekarang dan tiga puluh menit lagi acara akan dimulai.”

“Belum. Aku belum punya rencana apa-apa.” Aneh, sekarang aku bisa mengucapkan kata-kata itu tanpa menjadi panik dan berubah jadi zombie-zombie mengerikan seperti yang ada di film Train To Busan. Apakah aku sudah benar-benar tidak peduli dengan hasil apapun yang mungkin kuterima nanti malam? Aku mendengar Dinky mendesah khawatir.

“Kamu tampil urutan ke berapa?”

“Delapan belas. Kamu?”

“Aku nomor lima. Bagus kamu tidak tampil terlalu awal. Aku harap kamu bisa memikirkan sesuatu selagi menunggu.”

“Yah, akan kuusahakan. Ngomong-ngomong, lagu apa yang sudah kalian siapkan untuk malam ini?”

“Blood, Sweat and Tears,” jawab Dinky percaya diri. Koreografi Blood, Sweat and Tears, seperti semua lagu BTS yang lain, sama sekali tidak bisa dibilang gampang. Tapi aku yakin Dinky dan teman-temannya punya kemampuan yang cukup untuk melahap lagu itu. Aku bahkan merasakan ada sedikit nada pamer di dalam suara kalimat Dinky barusan.

“Wah, pilihan yang bagus. Aku tak sabar untuk melihatmu di atas panggung.”
“Doakan aku, ya.”

“Tentu.”

Setelah dipikir-pikir, aku rasa lucu juga. Selama ini aku dan Dinky hanya saling kenal dari penampilan kami di panggung. Aku tahu namanya, dia tahu namaku. Tapi kami bukan teman dan sebelumnya tidak pernah terlibat dalam interaksi secara pribadi. Lalu hari ini, setelah melihatku lari-lari mengelilingi mal dengan wajah putus asa, Dinky akhirnya mengulurkan tangannya padaku untuk pertama kali. Dan dalam waktu singkat kami sudah jadi sedekat ini. Kini bahkan dia meminta doaku sebelum tampil. Silakan bilang aku kegeeran, tapi dia membuatku merasa istimewa.

Pukul empat sore, Hallyu Summer Competition 2017 akhirnya betul-betul dimulai. Sepasang cowok dan cewek yang bertugas sebagai pembawa acara adalah para cover dancer generasi awal. Mereka cukup terkenal di kalangan pecinta k-pop di Bandung dan bahkan mempunyai fanbase sendiri yang lumayan besar. Oh iya, ngomong-ngomong, Clarissa masih belum nongol sampai sekarang. Tidak juga Starcatcher. Tapi aku sudah tak peduli lagi. Aku sudah pasrah untuk apapun yang mungkin terjadi. Aku juga masih belum punya rencana apa-apa soal penampilanku nanti. Bodo amat. Mungkin aku bakal menari saja seperti orang gila di atas panggung.

Satu per satu peserta dipanggil untuk tampil. Aku merasa simpati kepada penampil pertama, seorang cover singer cowok berusia sekitar dua puluh lima tahunan yang berusaha keras untuk menyanyikan lagu Don’t Touch Me kepunyaan Ailee si ratu Kpop. Bukan bermaksud jahat, tapi dia benar-benar tampak mengenaskan. Selain kostum batiknya yang terlihat seperti pelayan restoran sunda, dia juga salah memilih nada dasar untuk lagunya. Terlalu rendah. Suaranya hampir tak terdengar di setiap verse. Nada tingginya lumayan, tapi dia terlalu gugup. Aku bersumpah semua orang bisa melihat dengan jelas tangannya yang gemetaran bahkan dari jarak puluhan meter sekali pun.

Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya tiba giliran Dinky dan grupnya, Redflag, untuk tebar pesona di atas panggung. Semua penonton langsung menjadi liar. Fans mereka yang tergabung dalam fandom bernama Redkisser tak henti meneriakkan fan chant yang sudah dibuat khusus. Popularitas Redflag memang tak main-main. Dari gosip yang kudengar, poster-poster dan stiker bergambar wajah para member Redflag sudah dijual di beberapa Kpop Store di Bandung. Para penjual casing telepon genggam custom juga kabarnya mulai kebanjiran pesanan desain bertema Redflag. Gila. Jika Lee Sooman tahu tentang keberadaan anak-anak muda usia SMA berparas rupawan dengan bakat luar biasa seperti mereka, aku yakin dia akan langsung mengontrak mereka untuk bergabung dengan SM Entertainment.

Penampilan Redflag diakhiri dengan gemuruh tepuk tangan penonton dan juri serta teriakan-teriakan histeris dara para fans-nya. Mereka memang tidak pernah mengecewakan. Setelah Dinky dan teman-temannya turun dari panggung, ada salah seorang dari panitia mendekat ke sisi kiri panggung kemudian memberi isyarat kepada pembawa acara. Si pembawa acara cowok datang menghampiri orang itu yang kemudian membisikkan sesuatu kepadanya. Kulihat si pembawa acara cowok mengangguk-angguk lalu mengangkat jempolnya tanda mengerti.

“Ya, penonton! Gimana barusan penampilan dari Redflag? Bagus enggak?” tanya pembawa acara sambil menyodorkan mikrofon ke arah penonton yang lagi-lagi disambut meriah oleh tepukan tangan ditambah yel-yel penyemangat dari para penggemar Redflag yang sepertinya tak pernah kelelahan. Pembawa acara cowok itu kemudian melanjutkan, “Karena ada hal yang bersifat mendesak yang sayangnya saat ini belum bisa kami sebutkan, kami dari pihak panitia dengan berat hati harus melakukan sedikit perubahan pada urutan tampil peserta. Bagi grup BeStar yang semestinya tampil saat ini dan sudah menunggu di backstage kami mohon untuk tunggu dulu karena akan ada sebuah grup yang tampil lebih dulu. Kami mohon pengertiannya.”
Semua orang bingung dan bertanya-tanya. Penonton yang satu saling berbisik dengan penonton di sebelahnya, mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi. Para juri pun terlihat kebingungan dan memanggil salah seorang panitia untuk meminta penjelasan.

Aku yang saat ini melihat dari jarak yang cukup jauh di pinggir belakang tak bisa mendengar percakapan mereka.

“Harap penonton semuanya tenang, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Ini hanya rolling urutan tampil saja, kok.” Pembawa acara mencoba menenangkan para penonton yang mulai gusar.

“Baiklah, tanpa menunggu lama lagi, langsung saja kita panggilkan penampil keenam kita untuk malam ini. Berikan tepuk tangan yang meriah untuk Starcatcher!” seru si pembawa acara.

Aku terkesiap dan membeku sesaat. Apakah aku tidak salah dengar? Starcatcher? Jadi mereka datang? Tapi kenapa mesti bertukar urutan tampil segala? Sungguh tidak bisa dipercaya. Tapi itu bukan apa-apa. Pemandangan yang kulihat saat ini jauh lebih tak bisa dipercaya. Aku bahkan sempat curiga bahwa aku sedang berhalusinasi. Clarissa. Cewek yang sejak semalam membuatku kerepotan karena tiba-tiba menghilang itu kini sedang berjalan santai menaiki tangga menuju panggung bersama member Starcatcher yang lain. Rahangku hampir copot jika saja Dinky tidak menepuk pundakku saat itu.

“Itu Clarissa, kan? Itu benar-benar Clarissa kan, Ky? Clarissa yang udah bikin aku panik setengah mati itu kan? Aku gak salah lihat kan, Ky?”

“I-iya, Anna. Itu Clarissa,” jawab Dinky pelan.

“Clarissa tiba-tiba menghilang di hari debut grup baru kami, dan membuatku pusing tujuh keliling lalu sekarang dia muncul begitu saja bersama Starcatcher di atas panggung. Tsk! Seharusnya aku tak mempercayai dia sejak awal.”

“Sabar, Ann. Clarissa pasti punya alasan khusus.”

“Ya, Clarissa sebaiknya punya alasan bagus. Jika tidak, mungkin aku tidak akan pernah memaafkannya.”

“Sabar, Ann. Sabar.”

“Tenang, Ky. Dari tadi aku sudah memutuskan untuk berlapang dada menerima apa pun yang mungkin terjadi malam ini. Aku tak peduli lagi soal Clarissa. Aku cuma ingin menari dengan baik dan menikmatinya.”

“Baguslah jika begitu. Jadi kamu sudah punya rencana?”

“Belum,” jawabku dengan enteng.

“Ya ampun, Ann! Sekitar satu jam lagi kamu bakal dipanggil naik panggung, kupikir kamu sudah merencakan sesuatu.” Seharusnya yang lebih pantas untuk panik saat ini adalah aku, tapi entah kenapa sepertinya Dinky justru lebih kelimpungan daripada aku.
“Tenang, Ky. Sekarang lebih baik kita lihat dulu penampilan Clarissa, baru setelah itu aku akan memikirkan cara untuk mengalahkannya.”

“Oke.”

Malam itu Starcatcher menampilkan lagu Mr. Mr. dari SNSD. Mereka tampil bagus dan rapi, seperti biasanya. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang janggal. Ada yang aneh dengan tatapan mata mereka yang bergetar dan sering kehilangan fokus. Mereka tersenyum lebar di sepanjang lagu tapi aku tidak mendapatkan ada ketulusan di sana. Senyum-senyum itu terasa palsu. Entah apa yang terjadi pada mereka, yang jelas ini bukanlah penampilan terbaik mereka. Meski tetap saja, penampilan mereka jauh lebih baik dari grup-grup lain yang sudah naik panggung.

Aku tak bisa melihat dengan jelas karena aku dan Dinky berdiri lumayan jauh dari panggung. Selain itu aku juga tidak memakai kacamataku. Tapi aku yakin aku melihat Clarissa meneteskan air mata begitu penampilannya selesai. Aku buru-buru berjalan ke arah belakang panggung untuk menghampiri Clarissa dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Namun begitu aku sampai di belakang panggung, Clarissa dan semua member Starcatcher sudah lebih dulu pergi dengan terburu-buru menuju gerbang keluar mal. Mereka masuk ke dalam sebuah mobil hitam yang sudah menunggu di pinggir jalan dengan pintu terbuka lalu melesat ke arah pusat kota.

Dinky ternyata mengikutiku dan dia sempat berusaha mengejar mereka hingga ke jalan raya. Tapi tentu saja sia-sia. Dia kembali ke arahku dengan napas tersengal.

“Sudahlah, Dinky. Biarkan saja mereka pergi. Sekarang yang penting adalah memikirkan bagaimana penampilanku nanti.”

“Kau sudah menemukan solusinya?”

“Matcha,” kataku.

“Matcha? Itu lagu siapa? Girlband baru?” tanya Dinky keheranan.

“Bukan. Tentu saja bukan. Maksudku matcha! Greentea! Aku perlu memakan sesuatu yang mengandung matcha untuk membantuku berpikir. Pergilah ke dalam dan belikan aku sesuatu yang ada matcha-nya. Apapun itu. Tolong,” ucapku dengan tergesa-gesa seperti orang yang hendak mendapat wahyu.

Dinky masih terlihat bingung tapi toh dia pergi juga. Sepuluh menit kemudian dia kembali dengan membawa sebuah kantong berisi es krim matcha, bubble drink rasa matcha, coklat matcha, dan permen rasa matcha. Aku mengeluarkan telepon genggamku, menyambungkan earphone lalu menyumbatkannya ke dalam telingaku. Aku memainkan lagu-lagu dalam daftar putarku dengan acak sambil memakan matcha-matchaku. Lima menit kemudian sekantong makanan itu ludes dan aku berhasil mendapatkan sebuah ide.

“Ketemu! Idenya ketemu!” seruku.

“Akhirnya!” Dinky ikut berseru sambil menghela napas lega. “Jadi apa rencananya? Lagu apa yang kamu pilih?” tanyanya kemudian.

“Sebuah lagu yang akan membuat baju pinjaman kakakmu ini menjadi tak sia-sia. Tapi aku butuh bantuanmu.” Aku kemudian menyeret Dinky ke area parkiran yang lumayan sepi dan kujelaskan padanya detil rencanaku. Rencana ini tak akan berhasil tanpa Dinky, dia adalah kuncinya. Dan untungnya, dia bersedia membantuku.

Begitu pembawa acara memanggil nama Redwine, aku naik ke atas panggung dengan penuh percaya diri. Aku telah menitipkan jaket denim dan celana pendek yang tadi kupakai di tempat penitipan barang di parkiran. Kini aku hanya mengenakan bodysuit hitam polos. Aku juga meletakkan stiletto-ku di bawah tangga pijakan menuju panggung. Kini aku bertelanjang kaki. Aku bisa merasakan semua orang menatap dan menilai dandanaku dari ujung rambut hingga ujung bulu kaki.

Aku kemudian memberi isyarat kepada Dinky yang menunggu di sisi panggung untuk ikut naik. Reaksi para penonton ketika melihatnya naik panggung dan kemudian meraih uluran tanganku benar-benar gila. Sepertinya mereka tahu, mereka akan segera menyaksikan pertunjukan bagus. Tentu saja, ketika dua orang calon kuat nominator Hallyu Wave Festival berada dalam satu panggung, tak ada yang patut diharapkan kecuali pertunjukan hebat. Para penonton bersorak heboh ketika musik mulai mengalun dan mereka menyadari lagu apa yang akan kutampilkan.

Malam itu aku memilih lagu 24 Hours dari Sunmi. Salah satu lagu dengan koreografi terbaik menurutku. Seksi, menggoda, tapi tidak terlihat murahan. Lagu ini ada di daftar putar favorit dalam telepon genggamku. Firasatku menyebutkan bahwa Kartika memilihkan kostumku ketika dia melihat judul lagi ini tadi. Dengan hanya dua kali latihan, aku dan Dinky bisa menampilkan tarian ini dengan baik. Chemistry di antara kami membuat penonton terbius. Kami dibanjiri tepuk tangan penonton dan pujian dari dewan juri begitu kami selesai. Aku senang bahwa akhirnya semua berjalan dengan baik.

***

Tiga hari setelah acara Hallyu Summer Competition 2017, Clarissa mengajakku bertemu. Dia memintaku datang ke sebuah kafe kecil di jalan Cihampelas sepulang sekolah. Aku pikir dia mengajakku bertemu untuk meminta maaf. Tapi ternyata dia tidak berkata apa-apa. Clarissa malah mengajakku pergi ke sebuah rumah sakit yang terletak tak jauh dari kafe itu. Aku sebenarnya bingung dan penasaran, tapi aku memilih untuk jadi anak pendiam saja hari itu.

Clarissa mempersilakanku masuk ke sebuah kamar di lantai dua. Aku sungguh tak bisa berkata apa-apa ketika akhirnya mengenali orang yang terbaring di ranjang pasien. Monita, member Starcatcher sedang tertidur dengan beberapa bagian tubuhnya dibalut perban. Ah, aku baru ingat, salah satu hal aneh dari penampilan Starcatcher waktu itu adalah absennya Monita.

“Dia kenapa?” tanyaku pada Clarissa.

“Kecelakaan lalu lintas semalam sebelum kompetisi. Monita waktu itu habis latihan bersama anak-anak Starcatcher. Dia pulang naik ojek online. Naasnya, saat melewati daerah Taman Sari ada pengendara motor ugal-ugalan yang menabrak mereka. Begitu aku dapat kabar dari ibu Monita, aku langsung ke sini. Aku tak bisa memikirkan apa pun kecuali keadaan Monita. Aku bahkan lupa pada kompetisi. Aku lupa memberimu kabar. Maafkan aku, Anna. Aku sungguh tak bermaksud untuk mengacaukan rencana debut kita. Tapi aku juga tak bisa meninggalkan Monita. Awalnya Starcather pun memutuskan untuk batal ikut kompetisi, tapi begitu Monita siuman keesokan harinya, dia memaksa supaya Starcatcher tetap tampil. Dan dia memintaku untuk mengisi posisinya yang kosong. Aku merasa berdosa kepadamu sekaligus tak berdaya untuk menolak permintaan Monita. Maafkan aku, Anna.” Clarissa menjelaskan itu semua dengan suara yang bergetar dan mata berkaca-kaca. Aku tak tega melihatnya. Aku cuma bisa menghampirinya kemudian memberinya sebuah pelukan. Pelukan persahabatan.

“Gak apa-apa, Clarissa. Aku mengerti.”

“Terima kasih, Anna. Oh iya, bagaimana hasil kompetisi kemarin?”

“Aku juara dua,” jawabku dengan sedikit nada pamer.

“Wah, selamat ya, Anna.”

“Terima kasih. Kau tahu siapa yang jadi juara tiga?”

“Starcatcher! Selamat ya!”

Kami pun kembali berpelukan.

***

*Gambar dari Google

4 thoughts on “A Day in Summer

Add yours

  1. Entah kenapa aku ngebayangin Anna kayak Seobin WJSN, trus Clarissa kayak Cheng Xiao WJSN, dan si Dinky kayak cowok di Kiss Me-nya WJSN (aku lagi gandrung sama grup cewek itu, LOL). #salahfokus

    Anywaaay, ceritanya bagus bangeet. Ngalir, nggak buru-buru, dan seru buat diikuti dari awal sampe akhir. Aku suka pas sampe kafe Happiness Corner, trus didandani Kartika. Kupikir nggak bakal ngaruh ke depan, ternyata iya. xD

    Semangat nulis terus yaaa! ^w^

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: