Expert Writing Class GWP 3: Another Dream Comes True

Menuju Expert Writing Class Gramedia Writing Project Batch 3

IMG_20170729_193131

Saya mesti banyak bilang terima kasih sama semesta akhir-akhir ini. Banyak keinginan-keinginan saya yang dikabulkannya. Salah satunya adalah keinginan untuk bisa ikut Expert Writing Class Gramedia Writing Project 3 di Jakarta, tanggal 22 Juli 2017.

Ada cerita panjang tentang bagaimana nama saya akhirnya bisa tertera di daftar peserta Expert Writing Class.

Awalnya, Expert Writing Class hanya diperuntukkan bagi mereka yang lolos seleksi naskah novel via GWP. Saya mengikuti seleksi tersebut tetapi gagal. Nama saya tidak termasuk dalam 90-an naskah yang lolos penyaringan tahap pertama. Perasaan yang muncul waktu itu adalah sedih dan sesal. Sedih karena gak bisa ikut Expert Class, sesal karena saya merasa tidak melakukan usaha terbaik saya.

Tapi ternyata, semesta masih menyediakan jalan lain, sebuah pintu cadangan. Penyelenggara GWP memberikan kesempatan bagi orang-orang di luar finalis GWP 3 untuk bisa ikut menjadi peserta Expert Writing Class walaupun tidak menjadi bagian dari peserta kompetisi. Mereka yang berminat diminta untuk mengirimkan cerpen bertema remaja untuk diseleksi.

Cerpen tema remaja? Jujur saja saya gak kepikiran mau nulis apa. Kebanyakan cerpen yang pernah saya tulis adalah cerpen dewasa. Draft pertama cerpen saya bercerita tentang seorang remaja laki-laki yang merenungkan cinta dan seksualitas di hari ulang tahunnya yang ketujuh belas. Tapi draft itu tidak berhasil saya selesaikan. Saya merasa perlu waktu lebih lama untuk bisa menyelasaikan cerita tersebut.

Sedangkan batas waktu pengiriman cerpen hanya tinggal dua hari saja. Mau nggak mau saya mesti memikirkan cerita lain. Akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan sesuatu yang dekat dengan saya. Sesuatu yang selama ini menjadi minat saya: Kpop.

Dengan bantuan energi positif dari lagu-lagu Kpop kesukaan yang saya putar sebagai backsound selama saya menulis, cerpen bertema remaja itu berhasil saya selesaikan dan terkirim lima belas menit sebelum tenggat waktunya habis. Kalau penasaran seperti apa sih cerpen bertema remaja bikinan seorang mamang-mamang beruban yang berhasil meloloskan dia ke Expert Writing Class GWP 3, silakan baca cerpennya di sini.

Beberapa hari kemudian saat iseng cek twitter, saya hampir gak bisa menahan diri untuk tidak teriak saat membaca nama saya ada dalam daftar 20 orang pengirim cerpen terpilih yang berhak mengikuti Expert Class di Jakarta. Senangnya luar biasa! Ini pertama kalinya saya mengikuti seleksi apapun dan berhasil lolos. Seharian itu saya beneran gak bisa fokus. Gemeteran gak jelas saking bahagianya. Haha.

Bayangkan saja, dengan ikut Expert Writing Class tersebut saya punya kesempatan untuk tidak hanya bertemu dengan para penulis dan editor hebat, tapi saya juga bisa mendapatkan ilmu dari mereka tentang banyak hal yang pastinya bakal menjadi bekal sangat berguna bagi saya yang bercita-cita menerbitkan buku dan jadi penulis.

Setelah kebahagiaan itu bisa terkendalikan, saya mulai  memikirkan urusan teknis bagaimana saya bisa sampai di Jakarta untuk beneran hadir di kelasnya. Berhubung acara dimulai jam sekitar jam sembilan, rasanya gak mungkin keburu jika saya pergi dari Ciwidey pas hari H. Mau nggak mau mesti cari tempat buat menginap.

Berkat ketidaktahumaluan saya untuk curcol sana-sini, seorang teman sesama klub rahasia pencari hidayah akhirnya menawari saya untuk menginap di rumahnya. Alhamdulillah. Satu permasalahan sudah ada solusinya.  Selain itu, di twitter, saya menemukan twit dari Kak Lia Nurida (beliau berhasil jadi salah satu pemenang GWP 3 loh, btw, kece ya) yang bilang bahwa para peserta Expert Writing Class GWP 3 sudah bikin sebuah grup di WhatsApp supaya bisa saling mengenal dan berkoordinasi. Saya pun mengontak Kak Lia untuk minta tolong dimasukkan ke grup tersebut.

Di grup tersebut saya dipertemukan dengan penulis-penulis kece yang berhasil tembus seleksi GWP 3 jalur novel dan berhak ikut Expert Writing Class. Dari obrolan di grup –yang selalu ramai– saya jadi tahu bahwa banyak di antara para peserta Expert Writing Class yang sudah pernah menerbitkan buku di penerbit-penerbit mayor. Seketika, saya mulai menciut (sayangnya yang menciut nyalinya, bukan lingkar pinggangnya). Saya merasa tidak ada apa-apanya di banding mereka. Malu banget asli. Saat itulah saya benar-benar merasa bahwa keberadaan saya di sana adalah sebuah keberuntungan. Saya yang amatir blass ini bisa nyempil di antara para penulis hebat, apalagi namanya jika bukan sebuah hoki besar.

Terus saya juga jadi tahu bahwa para peserta yang berasal dari luar kota berencana untuk datang satu hari sebelum acara untuk kemudian menginap ramai-ramai di rumah Kak Lia Nurida. Supaya pas hari H mereka bisa berangkat sama-sama. Saya mulai kepikiran, apa gak sebaiknya saya juga ikut numpang nginep di rumah Kak Lia aja ya? Eh, tapi kan saya belum kenal sama orangnya. Apa gak malu tiba-tiba japri bilang mau cari penampungan? Emang gak gengsi?

Ternyata enggak. Saya putuskan untuk pura-pura gak malu dan pura-pura gak gengsi. Saya beneran japri Kak Lia untuk minta izin ikut menginap. Ckckck. Saya pikir ini adalah sebuah kesempatan langka. Bisa bertemu dan punya waktu untuk ngobrol sama banyak penulis dari berbagai daerah pasti bisa kasih saya banyak informasi dan hal-hal berfaedah lainnya (belakangan terkuak bahwa yang kami lakukan di rumah Kak Lia adalah bermain werewolf semalaman). Lagipula, dengan begitu saya bisa punya kenalan sebelum acara dimulai. Daripada saya dateng sendiri terus celingukan gak ada teman pas acara kan syedih, ya.

Tanggal 21, saya berangkat ke Jakarta naik bis kota. Lalu tiba di rumah Kak Lia sekitar pukul tujuh malam. Di sana saya ketemu Kak Felis, DenKus, Cepi, dan Lina. Empat orang penulis dari empat kota yang berbeda. Kak Lia sendiri waktu itu masih jemput anak-anak yang datang dari kota lain.

Sekitar jam sembilan malam, rumah Kak Lia udah penuh menampung belasan orang yang di grup katanya ngaku intovert parah padahal mah berisik semua. Sampai jam dua belas malam kami heboh main werewolf kemudian dilanjut sesi curhatan. Niatnya nginep di rumah peserta yang deket sama tempat acara supaya bisa istirahat dengan tenang. Prakteknya boro-boro. Malah ada beberapa anak yang tidur cuma beberapa jam aja sebelum berangkat ke Expert Writing Class keesokan harinya.

Keseruan di Expert Writing Class GWP 3

IMG-20170725-WA0018

Setelah heboh cari-cari jalan menuju Jakarta Creative Hub, tempat berlangsungnya Expert Writing Class, di google map dan tanya-tanya sama satpam sebarang gedung yang kelewatan, kami sampai sekitar pukul setengah sembilan. Langsung daftar ulang kemudian dikasih goodie bag, jadwal acara dan kartu peserta. Hati saya masih ser-seran ketika mengalungkan tanda peserta itu di leher saya. Mesem-mesem sendiri gitu, lah, persis ekspresi saya kalo lagi papasan sama gebetan di parkiran.

Dan saya mesti sebut di sini kalo tempat acaranya, Jakarta Creative Hub itu tempatnya asik banget. Desain interiornya unik sekali. Banyak spot foto yang bagus (tetep ya, yang dicari yang bisa dipake latar foto buat instagram). Pas keliling saya jadi mupeng kalo Komunitas Supernova bikin acara, nanti venue-nya mesti di sini. Wajib! Amiin.

Acara hari itu dibuka oleh Mbak Gretti selaku General Manager dari Gramedia Pustaka Utama. (Btw, yang waktu itu jadi MC lucu banget sih. Kalem tapi bikin ngakak. Effortlessly funny. I am a fan. Kalo ada yang tahu kontaknya, bagi ya.) Para peserta yang berjumlah 81 orang dibagi ke dalam tiga kelompok. Tiap-tiap kelompok punya jadwalnya masing-masing. Sistemnya seperti moving class.

Saya masuk kelompok tiga. Kelas pertama yang saya ikuti adalah kelas plot yang materinya diberikan oleh Mbak Rosi L Simamora. Beliau adalah editor senior yang sekarang juga aktif menulis buku dan sering mengadakan kelas-kelas penulisan. Baik offline maupun online.

Di kelas Mbak Rosi kami diberitahu sebuah rahasia bahwa yang menjadi modal utama bagi sebuah cerita untuk bisa menjadi cerita yang kokoh adalah plot. Mbak Rosi mengibaratkan cerita sebagai sebuah rumah. Meski gak keliatan, bagian paling penting dari rumah adalah fondasinya. Percuma atapnya bagus, pintunya mewah, perabotannya mahal, jika fondasinya tidak kuat ya tetep roboh. Begitu juga dengan cerita. Meski karakternya bagus, gaya berceritanya enak, jika plotnya bolong-bolong, ya runtuh juga.

Ada banyak tips-tips dan latihan yang diberikan oleh Mbak Rosi. Saya senang sekali mengikuti kelas ini karena Mbak Rosi menjelaskan materinya dengan sangat jelas dan terstruktur. Benar-benar bekal yang penting bagi saya yang sangat lemah menyusun plot cerita dan lebih suka asal tulis, plot dipikirin sambil jalan aja. Dan buktinya, belum ada satu pun naskah novel yang saya rampungkan. Sekarang saya tahu salahnya di mana.

Kelas selanjutnya adalah kelas Darwis Tere Liye. Mas Darwis kebagian menjelaskan soal ide dan karakter. Intinya, kata Mas Darwis, ide itu ada di mana-mana. Ada di sekitar kita. Tinggal secerdas-cerdasnya kita utuk mengolah ide tersebut dengan sudut pandang yang tidak biasa. Mas Darwis juga berpesan untuk membuat karakter yang bisa gampang diingat oleh pembaca.

Kelas berikutnya diisi oleh Aan Mansyur. Mas Aan mengisi materi mengenai narasi. Kita sebagai penulis selalu merasa bahwa tugas kita adalah membuat cerita. Nah, kata Mas Aan, itu kejauhan say. Tugas penulis adalah membuat kalimat. Ya, kalimat. Karena sebagus apapun cerita yang ada di kepala kita, jika kalimat yang kita buat tidak berhasil menarik minat pembaca maka percuma saja.

IMG-20170724-WA0004

Untuk dua kelas terakhir yaitu kelas Hetih Rusli dan Bernard Batubara semua peserta digabung. Mbak Hetih memberikan materi soal editing. Mantarnya sederhana dan mudah diingat yaitu B.O.K.E.R: Baca, Observasi, Kill Your Darlings, Editing dan Re-write. Kelas Mbak Hetih ini kelas paling rame, bikin gak ngantuk karena ketawa-ketawa terus. Padahal ya kalo di Twitter mah serem, pas aslinya ternyata kocak banget. Niatnya jauh-jauh dari Ciwidey ke Jakarta itu pengen minta foto bareng sama beliau, tapi pas kelasnya beres, Mbak Hetih langsung menghilang. Hiks.

Kelas terakhis diisi oleh Bernard Batubara. Mas Bara memberi kami materi mengenai cara penulis membentuk online personality-nya. Gak bisa dipungkiri sekarang sosial media bisa menjadi sarana yang penting dan sangat berguna bagi para penulis bukan hanya untuk berhubungan dengan pembacanya tapi juga untuk promosi, dll. Nah, di kelas ini, Mas Bara kasih kami tips-tips, dos and donts, sebagai bekal supaya bisa membentuk citra yang baik di sosial media.

Begitu kelas selesai, seisi ruangan berubah tegang karena pemenag GWP 3 akan segera diumumkan. Ada sedikit perasaan sedih di hati saya karena tidak bisa ikut merasakan ketegangan yang sama mengingat saya tidak lolos seleksi lomba dan sudah tidak berada di dalam kompetisi. Saat itu saya bertekad untuk bisa menulis novel seproduktif teman-teman yang lain dengan bekal ilmu yang didapat dari Expert Writing Classs tersebut.

Daftar lengkap pemenang GWP 3 bisa dicek di akun twitter resminya GWP ID ya.

IMG-20170722-WA0046

Yang Saya Bawa Pulang

Selain goodie bag berisi tempat minum unik berbentuk seperti notebook dengan stiker Gramedia Wrtiting Project, buku catatan berlogo Gramedia, sebuah pewangi ruangan yang bisa dijadikan pembatas buku setelah habis pakai, buku Selasa Bersama Morrie karya Mitch Albom, dua buah buku hasil acara tukarbuku bersama sesama peserta, dan sertifikat Expert Writing Class, yang lebih penting dari itu semua saya pulang membawa dua hal yang amat berarti meski tak bisa disentuh: ilmu dan teman baru.

Grup WA para peserta Expert Writing Class masih aktif dan ramai terus sampai sekarang. Saya dapet banyak info dan tips-tips menulis di sana. Kami bahkan sengaja install aplikasi Telegram supaya tetap bisa bermain Werewolf meski cuma via media online.

Sepulang dari Expert Writing Class, semangat saya untuk menghasilkan tulisan dengan lebih bermutu dan produktif meningkat drastis. Semoga ilmu yang saya dapat dari sana bisa menjadi bekal yang cukup.

Sebagai penutup saya mau bilang terima kasih banyak kepada Gramedia yang telah menyelenggarakan acara ini. Semoga Gramedia bisa terus mendukung lahirnya penulis-penulis berbakat di Indonesia. Terima kasih juga kepada teman-teman peserta GWP 3 yang mau menerima saya dengan tangan terbuka. It was nice to know you guys. Semoga kita bisa terus menjalin hubungan pertemanan yang baik. Gak sabar rasanya untuk kembali berkumpul bersama di lain kesempatan. Semoga kita berjodoh.

IMG-20170725-WA0019

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: