Di Sebuah Dunia Alternatif

Malin Kundang sedang mengajak ibunya berkelana dari satu mal ke mal lainnya di kawasan Garosugil. Mereka sibuk mencari baju yang cocok dan trendi untuk dipakai sang Ibu nonton konser penutupan tur dunia Bangtan Boys yang bertajuk “WINGS” keesokan harinya di Gocheok Sky Dome.

Butuh usaha bertahun-tahun bagi sang Ibu untuk meyakinkan Malin supaya mau menceraikan istrinya yang menurut beliau terlalu pecicilan. Tapi sang Ibu tidak pernah menyerah. Setelah menamatkan dan meneliti sepuluh judul sinetron India yang tayang di TV Ikan Terbang sebagai rujukan, akhirnya beliau berhasil menyingkirkan menantunya itu dari daftar pewaris kerajaan bisnis celana dalam kepunyaan Malin Kundang.

Sementara itu di Bandung, Dayang Sumbi sedang sibuk menyuapi cucu ketujuhnya dari Sangkuriang dan Roro Jonggrang dengan makanan bayi endorse-an sebuah online shop ternama. Anak lelaki berusia empat tahun yang sudah menjadi selebgram itu dinamai Michael Ferguson Oregano oleh kedua orang tuanya.

Suami baru Dayang Sumbi, yang untuk alasan keselamatan tidak bisa saya sebutkan namanya di sini, sudah berkali-kali bilang bahwa nama itu tidak sesuai dengan kaidah cocoklogi turun-temurun tradisi keluarga. Tapi Sangkuriang tetap ngotot. Karena ngeri rumah mereka bakal dijadikan danau, maka Dayang Sumbi dan suaminya pun memilih untuk mengalah.

Di sebuah siang yang lebih panas dari gosip terbaru Lambe Turah, Donald Trump nampak khidmat mengenakan pakaian yang terbuat dari anyaman daun katuk. Ia berorasi di depan Gedung Putih,  berteriak-teriak mengumandangkan slogan-slogan yang mendukung gerakan ramah lingkungan.

Anak perempuannya sudah lama berimigrasi dan beralih profesi menjadi petani beras yang sukses di Cianjur selatan. Beras varian baru yang ia ciptakan bahkan mengalahkan popularitas Pandan Wangi dan Beras Maknyuss. Sedangkan istrinya setiap pagi asik membentuk bulatan-bulatan ubi jalar berisi gula merah untuk dijual di SD Inpres terdekat sambil menyanyikan lagu-lagu almarhum Darso dan Detty Kurnia.

Setiap orang telah menjadi presiden dan mempunyai negara mereka masing-masing. Pekerjaan utama mereka setiap hari adalah mecibir dan mengkritik tingkah konyol dan kebijakan-kebijakan yang mereka buat sendiri di Twitter.

Justin Bieber mendapatkan nobel perdamaian di bidang sastra untuk lirik-lirik lagunya yang telah menyelamatkan banyak remaja alay dari ancaman mimpi buruk bernama “tumbuh dewasa”.

Afi Nihaya Faradisa mengisi ceramah umum di sebuah universitas. Beliau memberikan materi mengenai pentingnya banyak membaca untuk kemudian mengolah ulang bacaan tersebut menjadi status Facebook yang viral.

Kang Emil yang selalu punya cara untuk tampil lucu dan menggemasan—dan juga sender-able—  telah dikontrak eksklusif tujuh tahun oleh Lee Sooman menjadi leader boyband terbaru SM Entertainment yang dibuat khusus untuk memberikan kehangatan di hati para wanita tuna asmara se-Bandung Raya sebagai bagian dari CSR perusahaan raksasa dari korea selatan itu.

Sule masih melucu, tapi dia telah lama meninggalkan panggung hiburan. Sekarang dia melucu di gedung perwakilan rakyat. Tingkahnya selalu berhasil membuat seluruh negeri gemas—geram dan cemas.

Gubernur Jawa Barat yang baru sedang sibuk meresmikan sebuah danau buatan terluas di Indonesia. Danau itu bernama Baleendah. Proyek pembuatan danau buatan itu merupakan wangsit yang ia terima sebagai jawaban dari doa-doa yang ia panjatkan setiap kali musim hujan tiba.

Di Ciwidey, seorang nabi yang belum mendapatkan centang biru membuat bahtera di atas bukit perkebunan teh. Yang boleh naik bukan orang-orang beriman dan hewan-hewan, melainkan hanya para wisatawan dengan syarat tiket dan kartu berjaminan. Rupanya di sana, uang telah menjadi jelmaan paling mutakhir dari kitab suci.

Orang-orang yang mengaku tidak menyukai duren—di dunia itu, tidak menyukai duren adalah sebuah penyakit dan termasuk tindak kejahatan karena melanggar norma susila dan agama—disuruh mengantre di depan sebuah jasa penyembuhan dengan pengawalan pihak keamanan. Perusahaan jasa penyembuh itu mengeklaim bahwa mereka bisa menyembuhkan para pesakitan itu dengan cara mencarikan mereka ‘duren yang tepat’.

Di Spanyol, aku sedang berbulan madu dengan pacarku yang tampan. Kami menikmati senja sambil minum spanish martini dan menyantap Chuletas Guisadas di Barcello Castilo. Di dunia itu, pacarku batal bertobat karena di sana aku adalah perempuan.

***

Ciwidey, 2017

Advertisements

One thought on “Di Sebuah Dunia Alternatif

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: