Pembajakan Identitas LGBTI dalam Usaha Memproduksi Komedi

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan video berjudul I’m Gay Prank on My Bestfriend di YouTube. Video tersebut memperlihatkan seseorang yang mengusili temannya dengan cara mengaku sebagai gay. Korban prank menunjukkan rasa jijiknya terhadap homoseksual dengan jelas ketika si pengusil berkata bahwa dia menyukainya. Selain verbal, korban bahkan melakukan kekerasan secara fisik. Yang mengejutkan (dan mengerikan), dari total tiga ribuan komentar yang telah ditinggalkan untuk video itu, ternyata kebanyakan penonton merayakannya sebagai humor.  

Padahal, dalam tayangan tersebut ada bagian dari identitas komunitas lain—dalam hal ini homoseksual—yang telah diciderai bahkan dilecehkan. Bagaimana tidak? Demi menjadi lucu, seorang laki-laki heteroseksual membajak identitas homoseksual. Dia berpura-pura menyukai laki-laki lain dan mengungkapkan perasaan itu padanya. Sungguh tindakan yang pemberani. Karena bagi homoseksual betulan, coming out sama sekali bukan perkara gampang. Perlu banyak keberanian untuk melakukannya.

Kasus lain yang sering saya temukan adalah pembajakan identitas Waria pada acara tujuh belasan. Di tempat saya tinggal, pada setiap peringatan Hari Kemerdekaan, selalu diadakan pawai (di sini disebut arak-arakan) yang menampilkan beragam kreatifitas dari warga di tiap RW. Yang tidak pernah absen setiap tahun adalah orang-orang yang berpura-pura menjadi waria. Di sepanjang jalan, mereka melakukan gerakan-gerakan tidak senonoh yang dianggap lucu dan disambut sorak-sorai penonton.

Hal-hal tersebut membuat saya merasa miris. Betapa mudah orang membajak identitas kelompok lain sebagai jalan pintas untuk menghadirkan komedi. Padahal bagi para gay, mencintai lelaki lain adalah bagian dari jati diri yang tak bisa begitu saja diingkari. Bagi para waria, mengenakan pakaian perempuan adalah bagian dari identitas yang tak bisa seenaknya dipakai-lepas. Di dunia nyata yang bukan panggung lucu-lucuan, menjadi gay atau waria betulan tidaklah mudah. Nyatanya, Gay dan Waria rentan menjadi korban berbagai bentuk kekerasan.

Penelitian yang dilakukan Arus Pelangi pada tahun 2013 menunjukkan bahwa 89,3% LGBTI di Indonesia pernah mengalami kekerasan. Di antara jumlah tersebut, 79,1% mengalami kekerasan dalam bentuk psikis, 46,3% kekerasan fisik, 26,3% kekerasan ekonomi, 45,1% kekerasan seksual, dan 63,3% kekerasan budaya. Kekerasan yang dialami termasuk diusir dari rumah atau kontrakan, dituntut untuk menikah, diancam, disakiti, diawasi, dikirimi pesan gelap, dikuntit, hingga dirusak barangnya. Pelakunya beragam, dari keluarga, teman, hingga orang tidak dikenal dan preman.

Alih-alih komedi, contoh-contoh kasus di atas malah lebih condong pada apropriasi kultural. Yaitu proses ‘meminjam’, ‘menggunakan’, bahkan ‘mengambil’ secara bebas oleh kelompok mayoritas, atribut, unsur, ikon, bahkan ritual budaya milik kelompok minoritas atau kelompok yang rentan mengalami diskriminasi dan eksploitasi. Dalam hal ini ‘atribut’ homoseksual dan kewariaan yang secara serampangan ‘dipinjam’ oleh kelompok heteroseksual.

Ketika mengenakan ‘atribut’ homoseksualitas atau kewariaan, mereka tidak melakukannya sebagai bentuk penghormatan atau perayaan, melainkan olok-olok. Mereka mendapatkan pujian atas komedi yang mereka hasilkan dengan merampas identitas gay dan waria sedangkan gay dan waria mendapatkan diskriminasi ketika mereka menjadi diri sendiri. Hal tersebut merupakan salah satu ciri dari apropriasi kultural.

Padahal jika digunakan dengan bijak, sesungguhnya komedi memiliki potensi besar untuk menjadi alat mereformasi masyarakat. Sharon Locky dari Centre for Comedy Studies Research di Brunel University telah mengidentifikasi berbagai fungsi yang mungkin dari komedi selain untuk hiburan. Di antaranya adalah menantang “stereotipe dan diskursus dominan yang mengucilkan dan melekatkan stigma pada individu-individu tertentu”, misalnya terkait disabilitas dan seksualitas.

Menurut komedian Josie Long, penting untuk mengerti apa yang bisa dilakukan komedi secara aktif dalam menyediakan penyeimbang bagi kebencian fanatik dan prasangka seraya mengidentifikasi jenis-jenis humor yang  malah memperkuat stereotipe-stereotipe negatif. Hal inilah yang belum tampak pada kasus-kasus yang disebut di atas.

Mungkin benar, ada batas yang amat tipis antara humor dan cemoohan. Salah satu alat yang bisa membantu kita membedakan keduanya adalah empati. Jika saya menonton video tadi tujuh tahun yang lalu, mungkin saya juga akan tertawa. Hingga tiga tahun yang lalu, para waria gadungan di acara pawai Agustusan sama sekali tidak membuat saya merasa terganggu. Tetapi, berinteraksi langsung dengan gay dan waria membuat mata saya terbuka bahwa kehidupan mereka bukanlah bahan guyonan.

Saya merasa sedih ketika seorang teman gay mengunggah status di Facebook, mengeluhkan betapa identititas komunitasnya begitu sering dijadikan bahan olokan. Padahal, sama seperti semua anggota lain dalam masyarakat, mereka pun mestinya dihargai dan dihormati dengan kadar yang sama. Keluhan teman tersebut kemudian diamini oleh teman waria yang juga merasakan hal serupa.

Dengan potensi yang dimiliki komedi untuk mendobrak tabu dan menghapuskan stigma, sudah saatnya komedi digunakan dengan cara yang benar. Hindarilah tindakan-tindakan insensitif ketika membuat materi humor. Sebagai gantinya, jadikan komedi sebagai alat untuk menyebarkan pesan-pesan damai dan kesetaraan. Karena selama tindakan-tindakan insensitif dan melecehkan dianggap sebagai bahan tertawaan yang wajar, maka nilai-nilai kesetaraan dalam masyarakat akan terus sulit untuk diwujudkan.

***

 

 

Advertisements

7 thoughts on “Pembajakan Identitas LGBTI dalam Usaha Memproduksi Komedi

  1. Bentuk komedi merupakan mediasi ringan mampu diterima oleh masyarakat luas, namun perlu digaris bawahi bahwa komudi tdk boleh disalahgunakan utk mendukung perilaku negatif atau sengaja memberikan edukasi negatif secara tdk langsung kpd Masyarakat.

    Like

  2. Tulisannya bagus kak. Jadi pingin buat artikel atau essai. Menurut saya, lebih baik jika mencantumkan sumber kutipan yang anggun ada, kak. Saya lihat ada beberapa hasil riset penelitian, tapi tidak dicantumkan sumbernya. Sukak deh pokonya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s