Category: Ruang Fiksi

Dua Puluh Tujuh dibagi Empat

1.

Aku membayangkan lengan-lenganmu yang hampir sama panjang dengan lengan kakak perempuanmu. Lengan itu kaulambai-lambaikan ke sebuah jembatan tempat ibumu biasa lewat setiap ia pulang bekerja. Ibumu adalah penyelamatmu. Kau akan memeluknya erat-erat begitu ia membuka pintu dan membebaskanmu dari jebakan kasih sayang seorang nenek yang membuatmu merasa seperti ikan dalam ember berjendela. Nenekmu yang baik akan membuat mukamu yang hanya sedikit lebih terang dari tanah di halaman selalu cemberut di balik bingkai jendela, karena kau tak boleh ke mana-mana. Seharian. Padahal kakimu sudah begitu bosan menginjak dipan kayu. Mereka mendamba-damba basah rumput dalam selimut embun, juga panas batu kali yang seharian dijemur matahari. Meski takut pada anak ayam, induk ayam dan bapak ayam, kau sebenarnya begitu ingin menjelajah. Maka setiap ibumu akhirnya pulang dari tempat yang membuat bajunya berbau dan berdebu, kau akan memeluknya erat-erat.

2.

Kau menangis tengah malam. Ingus keluar dari kedua lubang hidungmu yang di kemudian hari sering mengeluarkan darah setiap kali kau terlalu lelah. Seorang teman baru datang untuk menemanimu bermain nintendo yang dibeli ayahmu sebagai usaha membuatmu betah di rumah baru. Kau belum tahu nama teman barumu itu. Kau hanya ingat bahwa ia berambut rancung, berbadan kurus dan baunya seperti nasi kemarin yang sudah agak mengering. Ia selalu mengenakan baju hangat. Kau dan dia tertawa, begitu juga ayah dan ibumu yang sedang sibuk membereskan baju ke dalam lemari, ketika ingus encer dari hidungmu membentuk gelembung yang sama sekali tidak lucu. Suatu saat, sebuah kejadian tak jauh dari situ akan membuat bulatan di matamu mengingatkan orang-orang pada secangkir kopi yang tak sengaja ketumpahan susu. Setelah itu, sebuah kacamata berantai akan menjadi aksesori wajibmu setelah selama sebulan mata kirimu ditutup perban. Di sekolah, kau pernah menampar seseorang karena menyebutmu buta.

3.

Muka penggorengan.

Perut gentong.

Rambut landak.

Suara bebek.

Otot tahu.

Pungggung berbatu.

Otak mentega.

Hidung raksasa.

Tangan kura-kura.

Ada masa ketika kau tiap hari pergi ke bangunan bercat abu-abu, memakai pakaian putih-abu yang sama sekali tak cocok dengan ukuranmu, membawa tas berisi setumpuk buku, dan setiap kali pulang ke rumah kau punya lebih banyak cara untuk tidak menyukai dirimu sendiri.

4.

Kau tinggal dalam sebuah lemari, tanganmu berkeringat di himpitan pantat, gemetar menyembunyikan sesuatu. Sudah lama kaucopot matamu yang seperti kopi ketumpahan susu itu. Pokoknya kau sudah tahu bahwa dunia dipenuhi serigala-serigala yang mudah marah dan hobi menonton sirkus. Sebagai ganti, kau gunakan sepasang mata mainan yang kaucungkil dari serigala yang tertidur di kamar ibumu. Dengan mata itu, kau bisa melihat dunia sebagaimana serigala-serigala lain melihatnya (dan yang lebih penting lagi, serigala-serigala itu bisa melihatmu sebagai bagian dari dunia yang mereka huni, dunia yang mereka setujui). Sudah pula kau tanggalkan paru-parumu. Di dalam lemari itu, kau tidak bertahan hidup dengan paru-paru, melainkan dengan pura-pura. Kauajari mukamu cara memalsukan senyum sebagaimana para pawang mengajari lumba-lumba sirkus untuk terkikik-kikik meski sebenarnya tersiksa. Kau selalu berusaha keras untuk tetap tersenyum dan terus hidup dalam lemari agar serigala-serigala yang menonton tak marah lalu memakanmu. Kau tak lagi ketakutan dan tak lagi merayakan cinta.

kau

***

#Tantangan1 (deskripsi)

#KelasFiksi

#OneDayOnePost

Malam Berhantu 

Gonggong masa lalu merongrong
Kantuk dosa di tiap gigil janari
Cakar sesal tidak pernah gagal
Mengoyak selimut pertaubatanmu

Ringkih doamu gugur tanpa mampu
Menghalau teror dendam kata-kata
Yang membubung dari segunduk
Ruang kubur di lelangit mulutmu

Menggemai celah-celah rusukmu:
Ratap arwah jabang-jabang puisi
Mencari hangat puting-puting susu
Yang tak pernah berani kaumiliki

Alamendah, 18 Februari 2018

Oliver, Oliver, Oliver

Galau kemarau pernah menggiringku menuju lembah-lembah hijau berdanau, tetapi bengkung rusukmulah gerbang rumahku. Tempat peluk-peluk tetap bersarang dan gigil-gigil dimakamkan.

Di depan perapian tangisku tabah menunggu perempuan itu beranjak dari ranjang matamu.

Alamendah, 17 February 2018

Perkara Cita-Cita

Sebuah bebek plastik mengeluarkan suara kwek yang serak dan parau seperti sedang sekarat, ketika terinjak telapak kaki Halimah. Ia pungut lalu simpan di saku celana. Buat teman mandi.

Halimah lanjut berjalan menyusul Hasan, saudara kecilnya.

Setelah sandal jepit mereka beriringan, Halimah bertanya, “Cita-cita kau apa, San?”

Hasan tentu saja tak langsung menjawab. Ia suka sekali berpikir masak-masak sebelum mengatakan apa pun. Apalagi perkara cita-cita yang baginya teramat penting. Boleh dibilang, ciri yang bikin manusia jadi manusia dan bukan kambing. Jika kambing bisa menyusun cita-cita, mungkin sekarang mereka sudah sampai juga di bulan. Bendera bergambar tanduk bikinan mereka akan terpancang di sebelah bendera Amerika Serikat atau boleh jadi justru di sisi lain satelit Bumi. Continue reading “Perkara Cita-Cita”

Lelaki Yang di Dahinya Tertulis Kata-Kata

Meski lelaki itu tak  menghendaki, lagi-lagi sebuah tanggal lahir dan segera menelan tubuh lelaki itu begitu subuh pecah di timur.

“Tak adakah cara untuk membebaskan diri dari gelap-kelok-panjang usus waktu?”

Setiap pagi, selimut menjadi teman paling tak berperasaan. Seperti pelacur yang buru-buru menyuruh pelanggan pergi setelah segala yang dijual lunas dibayar. Seolah apa yang terjadi semalam tidak berarti apa-apa.

Continue reading “Lelaki Yang di Dahinya Tertulis Kata-Kata”

Bekas Luka Shanice

You are beautiful,” bisik seseorang. Bisikannya tidak merupakan buah dari keraguan, melainkan upaya  membangun keintiman.

You’re lying,” balas seseorang yang tergeletak di lantai ruang olah raga. Kulitnya hitam dan rambut keritingnya mengembang ke segala arah, seperti kembang gula yang jelek warnanya.

“Cewek-cewek kadang memang jahat. Terutama ke sesama cewek,” komentar seseorang yang kini duduk bersila di samping seseorang yang tergeletak di lantai ruang olah raga.

“Salah. Cewek-cewek itu jahat ke cewek yang mereka anggap lebih jelek,” sanggah seseorang yang terletak di lantai ruang olah raga. Badannya yang gemuk tengkurap tak bergerak. Sebelah pipinya melengketi permukaan lantai. Pandangan matanya menerawang ke arah pintu keluar. Tapi ia tak bisa melihat apa-apa. Otaknya terlalu sibuk menerjemahkan apa yang ia rasakan tanpa sempat mengolah informasi soal apa yang ia saksikan. Nama cewek itu: Shanice. Continue reading “Bekas Luka Shanice”

Teror Hujan

Kemalangan turun serupa hujan. Kuyupkan kami dengan darah dan kesedihan. Membanjir, hanyutkan jengkal-jengkal sejarah setiap rumah. Menjadikan mata kami satu-satunya kuburan bagi setiap kematian.

Hujan-hujan terus turun dan pohon-pohon sibuk melipat dedaunan. Sedangkan jerit-jerit kami tak pernah kembali. Apakah doa dari belulang daun yang kedinginan akan pernah sampai pada hangat pelukan Tuhan?

 

Ciwidey, 2017