Sujud-Sujud yang Terusir

Kobar tombak-tombak api

Telah mengoyak ibadah-ibadah

Dan mengusir para hamba dari

Khidmat tempat sujud mereka

 

Kerudung dan peci-peci rompang

Dipungut dari reruntuhan

Lalu diangkut dengan rakit-rakit

Yang dibangun dari jerit-jerit

 

Genting menggantung di kening

Ketika mereka mendayung dzikir

Membawa rakaat-rakaat doa

Mencari kiblat dan tempat salat

 

Ciwidey, September 2017

Advertisements

Antara Aku, Angkutan Online dan Angkutan Konvensional

Ruang Rumpi: Sebuah catatan hasil menguping pembicaraan ngalor-ngidulnya Aya dan kawan-kawan.

Episode 6: Antara Aku, Angkutan Online dan Angkutan Konvensional

 

Lian heboh mengipas-kipasi mukanya yang merah dan berkeringat dengan selembar kertas berisi daftar menu yang dilaminating. Miranda duduk di seberang meja, khusyuk memiring-miringkan muka di hadapan cermin sambil menyeka keringat yang mengucur di beberapa bagian mukanya dengan tisu.

Lian: Eh, Ceu, besok supir-supir angkot jadi demo gak sih?

Miranda: Enggak jadi, say.

Lian: Wah, asik atuh kalo gitu mah.

Miranda: Asik apaan? Mereka batal demo soalnya Pemprov Jabar udah ngeluarin larangan beroperasi buat perusahaan transportasi online. Jadi meski tukang angkot besok gak jadi demo, lu tetep gak bisa pakai gojek, grab, de-es-be, de-el-el. Wayahna, daek teu daek mesti naik angkot.

Lian: Alah siah! Beneran? Kata siapa? Awas hoax, ih!

Continue reading “Antara Aku, Angkutan Online dan Angkutan Konvensional”

Teror Hujan 

Kemalangan turun serupa hujan. Mendera tubuh-tubuh kami dengan darah dan kesedihan. Menjarah rumah dan tiap jengkal tanah. Menjadikan mata kami satu-satunya kuburan bagi setiap kematian. 
Hujan-hujan terus turun dan pohon-pohon sibuk melipat dedaunan. Sedangkan jerit-jerit kami tak pernah kembali. Apakah doa dari tulang belulang yang kedinginan akan pernah sampai pada hangat pelukan tuhan? 
Ciwidey, Oktober 2017 

It’s a Boy! 

(1)

kau hadir sebagai sabda bahwa bahagia mungkin saja diantar oleh jerit dan sakit. bahwa pekik tangis adalah tanda, semua baik-baik. 

(2)

segera, ramah dunia akan menjauhkan dari rumah. kecupmu kian asing dari hangat puting. menjadikan asuh ayah sesuatu yang tak usah. membuatmu abai pada buai ibunda. 

(3)

kau jadikan hidup perempuan itu: doa. pinta sepanjang malam dan siang dan segala jam. kepada pemilik setiap restu dan kutuk. agar lelaki yang pernah dikandung, tidak berubah menjadi kundang. 

(4)

goa itu. satu yang tak akan mampu kau kunjungi kembali. jalannya telah luput dilipit jahitan waktu. tapi telapak adalah padang yang selalu terhampar. sedia menadah bakti dan rindumu.

Ciwidey, 04 Oktober 2017

LDR

setiap kali jarak memisahkan dua buah buku nikah

akan kukurimkan cerita dan doa-doa dalam amplop-amplop menyala

kata-katanya akan menghilangkan pegal dari punggungmu yang pecah-pecah

sebagaimana matahari mengusir kuyup dari jemuranku yang basah


di halaman rumah kita, sayang, 

rindu tumbuh seteguh kacang panjang 

yang tak pernah mau berganti nama 

meski telah koyak dipenggal salam hangat 

dan pesan-pesan singkat


di dapur, aku merajang waktu 

menjadi potongan-potongan sekali telan:

tadi, kini dan nanti 

semata-mata supaya cinta yang kita rasa

tak bikin tersedak dan megap-megap


lalu setiap kali kau pulang 

di meja makan akan aku hidangkan pernikahan 

dalam berbagai rasa yang tak pernah membuatmu bosan 

dan kecupanmu, sayang, adalah perut lapar yang tak pernah kenyang


Ciwidey, 11 Mei 2017 
*tayang di Pikiran Rakyat

Melela

di padang ini kita sama-sama tersesat, ibu. terik waktu yang telanjang telah mengajari kita untuk saling mengasingkan. langkahku hanya akan menjauh meski kutahu tak ada telaga yang lebih terberkati ketimbang buah dadamu. dan akan terus kau telan langit demi langit karena kau percaya tak ada obat luka paling mujarab kecuali lupa. 

dalam dingin sesat kita masing-masing, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah membangun naungan baru. tempat kita menyandarkan sepi dan rindu. karena sebelum kita bersedia melepaskan diri sendiri, cinta akan jadi belati yang hanya membuat kita saling mengingkari. 

tak ada yang lebih perih dari pemahaman bahwa di antara kita telah menghilang: cari dan pulang. namun pekat darah yang tak bisa kita ubah selalu berdenyut bersama harap. bahwa dalam doa-doa yang kita sembunyikan di balik gersang mata, tuhan masih mendengar kita saling menyebut nama. 

Ciwidey, 21 September 2017 

Dari Sebuah Pelarian

kepada: Bapak

 

Entah di mana kutelantarkan engkau, Bapak

Di antara sesat dunia yang lebih rimba

Dari segala murka, dusta dan buang muka

Yang telah kau jenggalakan di tubuhku

Karena sebelum pergi ditelan pintu

Telah kupunahkan segala peta

Juga petunjuk arah menuju luka

Meski durinya masih berperih

Membelukar di antara degup dada

 

Mungkin saat ini kita sama-sama bertanya

dari balik tembok bata di sekeliling mata

tentang siapa yang seharusnya pulang

padahal kita sama-sama tahu belaka

telapak kaki kita hanya berisi karat alam fana

bukan surga

 

Ciwidey, Agustus 2017

 

*tayang di harian Pikiran Rakyat

(tanggalnya lupa)

A Day in Summer

Harus kuakui bahwa acara-acara kompetisi cover dance dan cover sing di Bandung memang masih memuakkan dan jauh dari kata profesional. Para panitia yang mengadakan acara kebanyakan anak ingusan yang belum berpengalaman mengadakan perhelatan besar. Sudah menjadi hal yang biasa jika acara yang seharusnya mulai dua jam lalu sampai sekarang ternyata masih belum dibuka. Tapi bukan itu yang membuat aku gusar saat ini. Sejak semalam, Clarissa tiba-tiba menghilang. Tak bisa kuhubungi sama sekali. Nomornya tidak ada yang aktif. Pesan-pesan yang kukirim ke semua akun media sosialnya juga tak satu pun dibalas.

Aku baru saja kembali menemui salah satu dari orang-orang yang mengenakan tanda pengenal bertuliskan Panitia Acara Bandung Hallyu Summer Competition 2017. Aku tadi menghampiri seorang laki-laki berkacamata yang sepertinya adalah seksi acara untuk kembali menanyakan kapan acara ini sebenarnya akan dimulai. Coba tebak apa jawabannya? Ternyata acara baru akan dimulai jam empat sore. Jika bukan karena menghilangnya Clarissa, partner menariku untuk acara kompetisi kali ini, aku mungkin sudah melempari kakak panita berkacamata itu dengan sepatu stiletto-ku.

Continue reading “A Day in Summer”

Blog at WordPress.com.

Up ↑