Perkara Cita-Cita

Sebuah bebek plastik mengeluarkan suara kwek yang serak dan parau seperti sedang sekarat, ketika terinjak telapak kaki Halimah. Ia pungut lalu simpan di saku celana. Buat teman mandi.

Halimah lanjut berjalan menyusul Hasan, saudara kecilnya.

Setelah sandal jepit mereka beriringan, Halimah bertanya, “Cita-cita kau apa, San?”

Hasan tentu saja tak langsung menjawab. Ia suka sekali berpikir masak-masak sebelum mengatakan apa pun. Apalagi perkara cita-cita yang baginya teramat penting. Boleh dibilang, ciri yang bikin manusia jadi manusia dan bukan kambing. Jika kambing bisa menyusun cita-cita, mungkin sekarang mereka sudah sampai juga di bulan. Bendera bergambar tanduk bikinan mereka akan terpancang di sebelah bendera Amerika Serikat atau boleh jadi justru di sisi lain satelit Bumi. Continue reading “Perkara Cita-Cita”

Advertisements

Lelaki Yang di Dahinya Tertulis Kata-Kata

Meski lelaki itu tak  menghendaki, lagi-lagi sebuah tanggal lahir dan segera menelan tubuh lelaki itu begitu subuh pecah di timur.

“Tak adakah cara untuk membebaskan diri dari gelap-kelok-panjang usus waktu?”

Setiap pagi, selimut menjadi teman paling tak berperasaan. Seperti pelacur yang buru-buru menyuruh pelanggan pergi setelah segala yang dijual lunas dibayar. Seolah apa yang terjadi semalam tidak berarti apa-apa.

Continue reading “Lelaki Yang di Dahinya Tertulis Kata-Kata”

Bekas Luka Shanice

You are beautiful,” bisik seseorang. Bisikannya tidak merupakan buah dari keraguan, melainkan upaya  membangun keintiman.

You’re lying,” balas seseorang yang tergeletak di lantai ruang olah raga. Kulitnya hitam dan rambut keritingnya mengembang ke segala arah, seperti kembang gula yang jelek warnanya.

“Cewek-cewek kadang memang jahat. Terutama ke sesama cewek,” komentar seseorang yang kini duduk bersila di samping seseorang yang tergeletak di lantai ruang olah raga.

“Salah. Cewek-cewek itu jahat ke cewek yang mereka anggap lebih jelek,” sanggah seseorang yang terletak di lantai ruang olah raga. Badannya yang gemuk tengkurap tak bergerak. Sebelah pipinya melengketi permukaan lantai. Pandangan matanya menerawang ke arah pintu keluar. Tapi ia tak bisa melihat apa-apa. Otaknya terlalu sibuk menerjemahkan apa yang ia rasakan tanpa sempat mengolah informasi soal apa yang ia saksikan. Nama cewek itu: Shanice. Continue reading “Bekas Luka Shanice”

Teror Hujan

Kemalangan turun serupa hujan. Kuyupkan kami dengan darah dan kesedihan. Membanjir, hanyutkan jengkal-jengkal sejarah setiap rumah. Menjadikan mata kami satu-satunya kuburan bagi setiap kematian.

Hujan-hujan terus turun dan pohon-pohon sibuk melipat dedaunan. Sedangkan jerit-jerit kami tak pernah kembali. Apakah doa dari belulang daun yang kedinginan akan pernah sampai pada hangat pelukan Tuhan?

 

Ciwidey, 2017

Ulang Tahun Pertama

Di parkiran SD Bumi Mulia, di bawah pohon angsana, sebuah mobil warna merah mengilap terparkir sejak sepuluh menit yang lalu. Di jok pengemudi Lisa sibuk berkutat dengan telepon genggam. Jempol tangan kanannya yang berkutek merah muda berjinjit-jinjit di atas layar. Menekan simbol itu dan ini, menyusun sebuah caption Instagram untuk foto yang akan ia unggah.

“Nunggu si cantik pulang sekolah,” tulisnya.

Tak lebih dari lima menit setelah tuntas diunggah, foto terakhir Lisa itu telah disemati puluhan ikon hati dari pengikut-pengikut setianya.

Lisa tengah mengatup-ngatupkan bibir sambil bercermin di spion dalam untuk meratakan lisptik warna peach yang ia ulaskan sebelumnya ketika serombongan anak berseragam keluar dari gerbang depan Bumi Mulia. Ia lantas mengambil sekotak “Princess Cake” dari jok belakang yang sudah ia siapkan untuk Rose, putrinya yang hari ini akan merayakan ulang tahunnya yang ke delapan.

Kelopak-kelopak angsana rontok lalu jatuh di kaca depan mobil Lisa.

Gerbang Bumi Mulia sudah sepi. Tetapi Rose masih belum kelihatan. Lisa mencoba menghubungi Rose melalui gawai. Namun, tidak ada jawaban. Continue reading “Ulang Tahun Pertama”

1. Di Toilet

Kesiur angin menyelusup melalui kisi-kisi ventilasi tepat di atas liang kloset. Menyusup ke beha-kancut, memeluk sesosok tubuh yang kaku terduduk di atas genangan air kencing yang belum dibanjur. Dingin angin yang tak bisa diajak kompromi mengomando setiap helai bulu di jenjang kuduk perempuan itu hingga kompak tegak berdiri. Nyala api di kepala lilin menggila dibelai angin. Jumawa, dibuatnya bayangan perempuan itu menari-nari tanpa kendali di permukaan tembok toilet yang lembab. Berkhianat pada tubuh yang layu dilumpuhkan pilu. Continue reading “1. Di Toilet”

Wirid Tanya

Dengan menyebut nama engkau

Yang mahamisteri lagi maharahasia

Kurapal dzikir seorang hamba

Yang mencinta

Tiga puluh tiga kali apa

Tiga puluh tiga kali kenapa

Tiga puluh tiga kali bagaimana

Tiada jawaban selain engkau, tuhan semesta tanda tanya

Kututup setiap usaha untuk mengingat engkau

Dengan pinta yang semoga sederhana:

Izinkan aku dekat denganmu, wahai yang tak kumengerti

Di Sebuah Dunia Alternatif

Malin Kundang sedang mengajak ibunya berkelana dari satu mal ke mal lainnya di kawasan Garosugil. Mereka sibuk mencari baju yang cocok dan trendi untuk dipakai sang Ibu nonton konser penutupan tur dunia Bangtan Boys yang bertajuk “WINGS” keesokan harinya di Gocheok Sky Dome.

Butuh usaha bertahun-tahun bagi sang Ibu untuk meyakinkan Malin supaya mau menceraikan istrinya yang menurut beliau terlalu pecicilan. Tapi sang Ibu tidak pernah menyerah. Setelah menamatkan dan meneliti sepuluh judul sinetron India yang tayang di TV Ikan Terbang sebagai rujukan, akhirnya beliau berhasil menyingkirkan menantunya itu dari daftar pewaris kerajaan bisnis celana dalam kepunyaan Malin Kundang.

Continue reading “Di Sebuah Dunia Alternatif”

Blog at WordPress.com.

Up ↑