Teman Terbaik

Saya sudah sering menemukan tips-tips supaya bisa mendapatkan teman sebanyak mungkin. Orang yang memiliki banyak teman dianggap supel dan pandai bersosialisasi. Sedangkan mereka yang lebih suka menyendiri disebut kurang cakap dalam membangun interaksi sosial. Mampu memiliki banyak teman lumrah dianggap sebagai suatu kelebihan.

Tapi, benarkah demikian?

Sebagai seorang pemalu yang sering merasa gugup ketika harus berinteraksi dengan manusia lain, saya hanya memiliki sedikit sekali teman. Selama bertahun-tahun saya menganggap itu sebagai sebuah kecacatan. Telah saya habiskan banyak waktu, tenaga dan pikiran dalam usaha saya untuk menjadi orang yang lebih supel, yang lebih pandai menjalin pertemanan. Saya bahkan menuliskan “punya banyak teman” sebagai salah satu poin dalam daftar goal yang saya buat.

Continue reading “Teman Terbaik”

Advertisements

Writer’s Gym

Dee Lestari berkata bahwa kemampuan menulis bisa diibaratkan seperti otot pada tubuh manusia. Untuk menjadi kuat, otot tentunya mesti sering dilatih, misalnya dengan berolah raga secara rutin. Dengan demikian otot akan mempunyai kemampuan yang semakin meningkat karena telah terbiasa untuk bekerja. Bedakan dengan otot yang jarang digunakan, bisa-bisa sekalinya dipakai kerja berat langsung kram atau cidera.

Menulis juga begitu, ada “ototnya” dan bisa dilatih. Latihannya dengan cara apa? Tentunya dengan cara digunakan secara rutin. Dengan begitu otot menulis kita akan terbiasa dan gak mudah mogok ketika sekalinya diperlukan. Dan sebagai seorang penulis amatir saya sadar betul saya perlu melatih otot menulis saya yang masih lembek ini.

Saya percaya Semesta punya telinga di mana-mana, maka saya tak heran ketika beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan informasi tentang komunitas One Day One Post dari seorang teman. Benar-benar sesuai dengan apa yang saya butuhkan: sebuah gym tempat saya bisa melatih otot menulis saya. Bukan berarti selama ini saya tidak pernah berlatih sendiri, tetapi sebagai manusia yang sering sekali khilaf, rasanya saya membutuhkan dukungan komunitas yang bisa mengingatkan saya ketika saya terjatuh dan terpuruk dalam jurang bernama kemalasan.

Setelah saya mengunjungi halaman facebook One Day One Post, ketertarikan saya menjadi semakin besar karena di komunitas tersebut ternyata sering juga diadakan berbagai tantangan dan program yang kayaknya seru banget.

Di tengah semakin populernya dunia tulis-menulis sebagai hobi dan pilihan profesi, kehadiran komunitas One Day One Post bisa menjadi sarana bagi para penulis untuk saling terhubung, berbagi pengalaman, berlatih, dan bertukar informasi.

Semoga dengan bergabungnya saya di One Day One Post bisa membantu saya memperkuat otot-otot menulis saya suapaya bisa tahan lama ketika dipakai dan gak sering-sering mogok, keram lalu minta diurut.

Amin.

 

Expert Writing Class GWP 3: Another Dream Comes True

Menuju Expert Writing Class Gramedia Writing Project Batch 3

IMG_20170729_193131

Saya mesti banyak bilang terima kasih sama semesta akhir-akhir ini. Banyak keinginan-keinginan saya yang dikabulkannya. Salah satunya adalah keinginan untuk bisa ikut Expert Writing Class Gramedia Writing Project 3 di Jakarta, tanggal 22 Juli 2017.

Ada cerita panjang tentang bagaimana nama saya akhirnya bisa tertera di daftar peserta Expert Writing Class.

Awalnya, Expert Writing Class hanya diperuntukkan bagi mereka yang lolos seleksi naskah novel via GWP. Saya mengikuti seleksi tersebut tetapi gagal. Nama saya tidak termasuk dalam 90-an naskah yang lolos penyaringan tahap pertama. Perasaan yang muncul waktu itu adalah sedih dan sesal. Sedih karena gak bisa ikut Expert Class, sesal karena saya merasa tidak melakukan usaha terbaik saya.

Continue reading “Expert Writing Class GWP 3: Another Dream Comes True”

Mari Mulai dengan Mimpi

Ketika saya masih jauh lebih muda dari saat ini, saya adalah orang terlalu pesimistis terhadap mimpi. Saya tidak pernah merasa layak untuk berharap bahwa pada suatu hari kata-kata ‘dream comes true’ bisa benar-benar terjadi pada hidup saya. Begitu saya lulus SMA, saya tidak pernah bermimpi untuk bisa kuliah lalu mendapatkan pekerjaan kantoran yang mapan. Keinginan saya cuma sesederhana bisa hidup cukup dengan gaji yang saya peroleh sebagai pekerja pabrik atau pelayan restoran.

Tapi, bahkan di dalam kepungan pesimisme yang sedemikian pekat pun, rupanya masih ada saja mimpi-mimpi yang tak sengaja saya bisikkan dalam hati. Harapan-harapan yang menghiasai lamunan-lamunan siang hari saya. Menjadi pekerja kantoran, membuka sebuah cafe yang menyediakan buku-buku bacaan, membuat perpustakaan, mendirikan organisasi amal, dan lain sebagainya. Ah, mungkin memang sudah jadi watak manusia untuk bermimpi dan memiliki angan-angan. Continue reading “Mari Mulai dengan Mimpi”

Annyeong!

Selamat datang di Ruang Rumpi! Di situs ini, seorang siluman kata-kata (yang insyaallah sudah dijinakkan sama pawangnya) akan mengajakmu untuk berbicara tentang banyak hal dalam rumpian-rumpian yang seru. Mulai dari film, buku, musik, drama korea, hingga hal-hal random seperti isu terkini atau bahkan hal-hal yang gak penting-penting banget. Continue reading “Annyeong!”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑