Pembajakan Identitas LGBTI dalam Usaha Memproduksi Komedi

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan video berjudul I’m Gay Prank on My Bestfriend di YouTube. Video tersebut memperlihatkan seseorang yang mengusili temannya dengan cara mengaku sebagai gay. Korban prank menunjukkan rasa jijiknya terhadap homoseksual dengan jelas ketika si pengusil berkata bahwa dia menyukainya. Selain verbal, korban bahkan melakukan kekerasan secara fisik. Yang mengejutkan (dan mengerikan), dari total tiga ribuan komentar yang telah ditinggalkan untuk video itu, ternyata kebanyakan penonton merayakannya sebagai humor.   Continue reading “Pembajakan Identitas LGBTI dalam Usaha Memproduksi Komedi”

Advertisements

Humor atau Cemoohan?

Pada awal tahun ini, saya menemukan video dari sebuah kanal YouTube berjudul “I’m Gay Prank on My Bestfriend”. Video tersebut memperlihatkan seseorang yang mengusili temannya dengan mengaku sebagai gay. Dari total tiga ribuan komentar yang ditinggalkan untuk video itu, bisa dilihat bahwa kebanyakan penonton merayakannya sebagai humor.  Padahal ada bagian dari identitas komunitas lain—dalam hal ini homoseksual—yang telah dicederai, bahkan dilecehkan.

Dalam video itu, korban prank menunjukkan reaksi keras ketika si pengusil berkata bahwa dia menyukainya. Rasa jijiknya terhadap homoseksual diperlihatkan begitu jelas. Selain verbal, si korban bahkan melakukan kekerasan fisik.

Saya mungkin akan merasa baik-baik saja melihat video tadi seandainya tidak lebih dulu membaca status Facebook seorang teman gay yang mengeluhkan betapa identititas komunitasnya begitu sering dijadikan bahan olokan. Padahal, sama seperti semua anggota lain dalam masyarakat, mereka pun mestinya dihargai dan dihormati dengan kadar yang sama.

Kegagalan untuk membedakan antara humor dan pelecehan masih sering sekali kita temukan. Sayangnya, banyak orang yang tidak memedulikan hal itu. Karena memang tidak mudah untuk memosisikan diri kita dalam identitas orang lain. Perlu disadari bahwa humor bisa menunjukkan (dan membentuk) persepsi masyarakat terhadap suatu persoalan. Ketika humor-humor insensitif dan diskriminatif dianggap sebagai kewajaran, maka nilai-nilai kesetaraan dalam masyarakat akan sulit untuk diwujudkan.

Ada batas yang amat tipis antara humor dan cemoohan. Salah satu alat yang bisa membantu kita membedakannya adalah rasa empati. Tidak perlu melecehkan untuk menjadi lucu. Be creative!

 

KDRT Bukan Salah Warna Kulit Perempuan

Baru-baru ini sebuah video telah ramai dibicarakan di media sosial. Video tersebut merupakan cuplikan iklan sebuah produk pemutih kulit dari Malaysia. Dalam iklan tersebut diperlihatkan seorang perempuan berkulit cokelat yang menjadi korban kekerasan rumah tangga oleh suaminya. Hingga sang perempuan terusir dari rumahnya.

Perempuan tersebut kemudian mengenakan produk pemutih yang membuat wajahnya terlihat menjadi lebih cerah. Ia pun mulai mengenakan bermacam-macam perias wajah yang membuatnya tampak semakin menarik. Karena perempuan itu kini telah berubah menjadi cantik sang suami yang dulu memperlakukannya dengan buruk lantas berubah sikap. Ia menginginkan perempuan itu untuk kembali berada di sisinya.

Continue reading “KDRT Bukan Salah Warna Kulit Perempuan”

Ada Apa dengan Ciwidey?

Saya tinggal di Ciwidey sejak duduk di bangku sekolah dasar kelas lima caturwulan tiga. Kala itu Ciwidey cuma punya tiga kolam pemandian air panas: Rancaupas yang katanya suka dipakai pasangan-pasangan bercengkerama, Cimanggu yang mempunyai monumen ikonik berupa patung seorang perempuan berpakaian renang yang sedang berbaring manja, dan Rancawalini yang sering dijadikan tempat ujian renang anak-anak sekolah.

Selain trio pemandian air panas tersebut di atas, ada juga Situ Patenggang yang masih rendah hati dan apa adanya. Merasa cukup hanya dengan hamparan air, sebuah pulau kecil di tengah dan Batu Cinta yang apes karena sering jadi korban vandalisme para pengunjung yang suka iseng mencoret-coretkan nama mereka dan pasangan di atas bodinya.

Continue reading “Ada Apa dengan Ciwidey?”

Jebakan Kelamin

Tak pernah terbayang sebelumnya di kepala saya bahwa kata sesederhana “laki-laki” akan memiliki pengaruh yang begitu besar dalam membentuk kehidupan saya. Awalnya saya menganggap kata “laki-laki” hanya sebagai penanda jenis kelamin saja. “Laki-laki” untuk mereka yang terlahir dengan penis dan “perempuan” bagi mereka yang memiliki vagina. Sama seperti hijau, merah dan kuning yang hanya berfungsi sebagai cara kita mengidentifikasi warna.

Namun, semakin saya dewasa, saya semakin disadarkan bahwa kata tersebut memiliki (atau dibebani) makna dan muatan yang lebih dari itu. Kata “laki-laki” ternyata tak hanya merujuk pada jenis kelamin melainkan juga seperangkat nilai, aturan dan ekspektasi: maskulinitas. Begitu juga dengan “perempuan” yang dibebani dengan seperangkat nilai, aturan dan ekspektasi yang dianggap melengkapinya: feminitas. Ketika saya menyadari hal ini, kata “laki-laki” terasa menjadi tak nyaman, menyesakkan dan membatasi. Saya tiba-tiba merasa bahwa terlahir dengan jenis kelamin tertentu adalah sebuah jebakan.

Continue reading “Jebakan Kelamin”

Perihal Orientasi Seksual (Bag. 3)

Halo, para pengunjung RuangRumpi! Minggu ini pembahasan kita mulai beranjak dari orientasi seksual. Tetapi tentu saja masih dalam lingkup SOGIESC (Sex, Orientation, Gender, Identity, Expression, Sex Characteristic). Tim RuangRumpi kembali melakukan tanya jawab bersama Kak Ivan dari Srikandi Patuha. Kali ini kami mengangkat tema “Transgender”.

Yuk, simak hasil obrolan singkat kami dengan Kak Ivan!

Q1: Apakah yang dimaksud dengan Transgender?

Continue reading “Perihal Orientasi Seksual (Bag. 3)”

Perihal Orientasi Seksual (Bag. 2)

Selama beberapa minggu ke depan, di tiap hari kamis, tim Ruang Rumpi akan menghadirkan tanya jawab dengan orang-orang yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang kesehatan seksual.

Di minggu ini, bersama Kak Ivan dari Arjuna Patuha, kita akan membahas apa itu orientasi seksual dan apa yang perlu kamu lakukan jika orientasi seksualmu dianggap tidak wajar oleh masyarakat.

Simak tanya jawab berikut ini ya! Continue reading “Perihal Orientasi Seksual (Bag. 2)”

Perihal Orientasi Seksual (Bag. 1)

Akhir-akhir ini telah banyak terjadi kasus-kasus diskriminasi dan persekusi yang didasarkan pada orientasi seksual seseorang. Di antaranya kasus pembubaran pengajian waria di Yogyakarta dan pengusiran 12 perempuan yang diduga lesbian di Bogor. Di dunia pendidikan, beberapa kampus meminta surat pernyataan dari calon mahasiswa bahwa mereka bukan homoseksual. Sekitar tahun lalu, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menyatakan bahwa lingkungan kampus mesti steril dari kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) karena keberadaan mereka bisa merusak moral bangsa.

Saya pribadi merasa miris dan marah Artikel ini tidak dibuat untuk mencoba memengaruhi anda. Saya menghargai sikap apapun yang anda pilih terkait isu-isu LGBT. Anda boleh mendukung keberadaan mereka, anda boleh menolak kehadiran mereka. Anda boleh ikut memperjuangkan hak-hak mereka. Bahkan jika anda termasuk orang yang menganggap bahwa kelompok LGBT adalah orang-orang yang memerlukan pertolongan untuk ‘sembuh’, itu hak anda. Selama sikap anda didasari oleh pengetahuan yang cukup dan bukan sekadar kebencian belaka, maka tidak ada masalah.

Tapi, apakah itu yang saat ini terjadi? Rasa-rasanya tidak.

Continue reading “Perihal Orientasi Seksual (Bag. 1)”

Kesempatan Kedua untuk Agama

Saya lahir 27 tahun yang lalu dari orangtua beragama Islam. Seperti orangtua kebanyakan, ayah dan ibu saya pun mengajari saya ritual-ritual (bukan filosofi atau penjelasan substansial tentang) agama sejak saya masih kecil. Tentu, sesuai dengan agama yang mereka anut: Islam. Ketika saya masih kanak-kanak, orangtua saya memilihkan agama yang mesti saya imani sebagaimana mereka memilihkan baju mana yang mesti saya pakai. Bedanya, agama tidak bisa dilepas kapan saja semudah celana.

Meski ayah saya bukan seorang Muslim yang taat, ia tetap berharap saya bisa menjadi anak yang saleh. Meski ibu saya bukan seorang Muslimah yang pandai membaca al-Quran, ia tetap meminta saya untuk rajin mengaji. Ketika saya masih jauh lebih muda dari saat ini, saat saya bisa menerima doktrin agama tanpa pernah merasa terdesak untuk sekali pun bertanya, satu-satunya alasan bagi saya untuk malas pergi ke sekolah agama setiap jam dua siang adalah karena ingin menonton acara televisi.

Tetapi waktu selalu punya cara untuk mengubah dunia dan segenap penghuninya, termasuk manusia. Pada usia awal 20an, keraguan terhadap agama datang kepada saya dalam berbagai pertanyaan. Benarkah Tuhan itu ada? Benarkah manusia memerlukan agama? Apakah manusia tidak bisa mengandalkan akalnya sendiri untuk membangun nilai-nilai moral dan peradaban hingga perlu bertumpu pada seperangkat wahyu untuk dijadikan petunjuk hidup? Jika Tuhan sedemikian agung dan berkecukupan, mengapa ia mesti menciptakan manusia, lengkap dengan satu set permainan bernama hidup-mati dan hari pembalasan? Bisa jadi saya yang kurang rajin mencari jawaban, tapi yang jelas, setelah sekian lama saya masih belum bisa menemukan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan itu.
Continue reading “Kesempatan Kedua untuk Agama”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑