Kesempatan Kedua untuk Agama

Saya lahir 27 tahun yang lalu dari orangtua beragama Islam. Seperti orangtua kebanyakan, ayah dan ibu saya pun mengajari saya ritual-ritual (bukan filosofi atau penjelasan substansial tentang) agama sejak saya masih kecil. Tentu, sesuai dengan agama yang mereka anut: Islam. Ketika saya masih kanak-kanak, orangtua saya memilihkan agama yang mesti saya imani sebagaimana mereka memilihkan baju mana yang mesti saya pakai. Bedanya, agama tidak bisa dilepas kapan saja semudah celana.

Meski ayah saya bukan seorang Muslim yang taat, ia tetap berharap saya bisa menjadi anak yang saleh. Meski ibu saya bukan seorang Muslimah yang pandai membaca al-Quran, ia tetap meminta saya untuk rajin mengaji. Ketika saya masih jauh lebih muda dari saat ini, saat saya bisa menerima doktrin agama tanpa pernah merasa terdesak untuk sekali pun bertanya, satu-satunya alasan bagi saya untuk malas pergi ke sekolah agama setiap jam dua siang adalah karena ingin menonton acara televisi.

Tetapi waktu selalu punya cara untuk mengubah dunia dan segenap penghuninya, termasuk manusia. Pada usia awal 20an, keraguan terhadap agama datang kepada saya dalam berbagai pertanyaan. Benarkah Tuhan itu ada? Benarkah manusia memerlukan agama? Apakah manusia tidak bisa mengandalkan akalnya sendiri untuk membangun nilai-nilai moral dan peradaban hingga perlu bertumpu pada seperangkat wahyu untuk dijadikan petunjuk hidup? Jika Tuhan sedemikian agung dan berkecukupan, mengapa ia mesti menciptakan manusia, lengkap dengan satu set permainan bernama hidup-mati dan hari pembalasan? Bisa jadi saya yang kurang rajin mencari jawaban, tapi yang jelas, setelah sekian lama saya masih belum bisa menemukan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan itu.
Continue reading “Kesempatan Kedua untuk Agama”

Blog at WordPress.com.

Up ↑