Perihal Orientasi Seksual (Bag. 3)

Halo, para pengunjung RuangRumpi! Minggu ini pembahasan kita mulai beranjak dari orientasi seksual. Tetapi tentu saja masih dalam lingkup SOGIESC (Sex, Orientation, Gender, Identity, Expression, Sex Characteristic). Tim RuangRumpi kembali melakukan tanya jawab bersama Kak Ivan dari Srikandi Patuha. Kali ini kami mengangkat tema “Transgender”.

Yuk, simak hasil obrolan singkat kami dengan Kak Ivan!

Q1: Apakah yang dimaksud dengan Transgender?

Continue reading “Perihal Orientasi Seksual (Bag. 3)”

Advertisements

Perihal Orientasi Seksual (Bag. 2)

Selama beberapa minggu ke depan, di tiap hari kamis, tim Ruang Rumpi akan menghadirkan tanya jawab dengan orang-orang yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang kesehatan seksual.

Di minggu ini, bersama Kak Ivan dari Arjuna Patuha, kita akan membahas apa itu orientasi seksual dan apa yang perlu kamu lakukan jika orientasi seksualmu dianggap tidak wajar oleh masyarakat.

Simak tanya jawab berikut ini ya! Continue reading “Perihal Orientasi Seksual (Bag. 2)”

Perihal Orientasi Seksual (Bag. 1)

Akhir-akhir ini telah banyak terjadi kasus-kasus diskriminasi dan persekusi yang didasarkan pada orientasi seksual seseorang. Di antaranya kasus pembubaran pengajian waria di Yogyakarta dan pengusiran 12 perempuan yang diduga lesbian di Bogor. Di dunia pendidikan, beberapa kampus meminta surat pernyataan dari calon mahasiswa bahwa mereka bukan homoseksual. Sekitar tahun lalu, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menyatakan bahwa lingkungan kampus mesti steril dari kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) karena keberadaan mereka bisa merusak moral bangsa.

Saya pribadi merasa miris dan marah Artikel ini tidak dibuat untuk mencoba memengaruhi anda. Saya menghargai sikap apapun yang anda pilih terkait isu-isu LGBT. Anda boleh mendukung keberadaan mereka, anda boleh menolak kehadiran mereka. Anda boleh ikut memperjuangkan hak-hak mereka. Bahkan jika anda termasuk orang yang menganggap bahwa kelompok LGBT adalah orang-orang yang memerlukan pertolongan untuk ‘sembuh’, itu hak anda. Selama sikap anda didasari oleh pengetahuan yang cukup dan bukan sekadar kebencian belaka, maka tidak ada masalah.

Tapi, apakah itu yang saat ini terjadi? Rasa-rasanya tidak.

Continue reading “Perihal Orientasi Seksual (Bag. 1)”

Kesempatan Kedua untuk Agama

Saya lahir 27 tahun yang lalu dari orangtua beragama Islam. Seperti orangtua kebanyakan, ayah dan ibu saya pun mengajari saya ritual-ritual (bukan filosofi atau penjelasan substansial tentang) agama sejak saya masih kecil. Tentu, sesuai dengan agama yang mereka anut: Islam. Ketika saya masih kanak-kanak, orangtua saya memilihkan agama yang mesti saya imani sebagaimana mereka memilihkan baju mana yang mesti saya pakai. Bedanya, agama tidak bisa dilepas kapan saja semudah celana.

Meski ayah saya bukan seorang Muslim yang taat, ia tetap berharap saya bisa menjadi anak yang saleh. Meski ibu saya bukan seorang Muslimah yang pandai membaca al-Quran, ia tetap meminta saya untuk rajin mengaji. Ketika saya masih jauh lebih muda dari saat ini, saat saya bisa menerima doktrin agama tanpa pernah merasa terdesak untuk sekali pun bertanya, satu-satunya alasan bagi saya untuk malas pergi ke sekolah agama setiap jam dua siang adalah karena ingin menonton acara televisi.

Tetapi waktu selalu punya cara untuk mengubah dunia dan segenap penghuninya, termasuk manusia. Pada usia awal 20an, keraguan terhadap agama datang kepada saya dalam berbagai pertanyaan. Benarkah Tuhan itu ada? Benarkah manusia memerlukan agama? Apakah manusia tidak bisa mengandalkan akalnya sendiri untuk membangun nilai-nilai moral dan peradaban hingga perlu bertumpu pada seperangkat wahyu untuk dijadikan petunjuk hidup? Jika Tuhan sedemikian agung dan berkecukupan, mengapa ia mesti menciptakan manusia, lengkap dengan satu set permainan bernama hidup-mati dan hari pembalasan? Bisa jadi saya yang kurang rajin mencari jawaban, tapi yang jelas, setelah sekian lama saya masih belum bisa menemukan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan itu.
Continue reading “Kesempatan Kedua untuk Agama”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑